Rabu, 24 Desember 2014

Semacam Kaleodoskop

Haloha...
Kangen bangetlah sama blog yang random ini. Iya, postingan terakhir di blog ini kayaknya udah lama banget ya. Bermula saat tadi pagi di kantor, saat suasana sepi, mau browsing-browsing juga bingung mau liat apa dan bosen banget sama timeline twitter, eh tetiba keinget blog ini (kasian banget ya kamu, selama ini dilupakan) *puk-puk* trus baca-baca postingan lama yang bikin Saya terenyuh, senyum-senyum sendiri, sampe kepengen toyor kepala sendiri, eh trus kok jadi semacam pengen 'menghidupkan' kembali blog ini. Dan lahirlah postingan yang maha tidak penting ini.

Karena ini udah akhir tahun, mungkin Gue coba untuk flashback aja ya apa yang udah Gue buat dan alami di tahun 2014 ini.

Kalo menurut Gue, tahun ini tahun yang seru banget, tahun yang penuh kejutan. Tahun dimana status Gue berubah dari seorang estri jadi mahmud alias mamah muda. Diawali dengan proses melahirkan yang super amazing di awal tahun (yang cerita lengkapnya mungkin suatu saat akan Gue posting juga di sini), kemudian di pertengahan tahun Gue disibukkan dengan kerjaan, perjuangan menyusui yang berat banget, dimana Gue mesti bolak balik kantor-rumah-kantor tiap jam istirahat buat nganter ASIP, tapi Alhamdulillah lingkungan mendukung, dan menjelang akhir tahun dititipi rejeki lagi sama Allah, yang sekarang udah masuk 15 minggu aja... kyaaaa..

Pokoknya tahun ini tahun yang penuh berkah, penuh syukur. Mungkin ada satu titik dimana Gue lelah, capek, manusiawi bangetlah ya, tapi lepas dari itu semua bersyukur banget ada Suami yang selalu ngedukung, dan anak yang super lucu yang selalu bikin senyum. Pokoknya Allah Maha Baik.

Udahan ya, mak-mak hamil ini mau makan siang dulu :)

Kamis, 21 Februari 2013

Rabu, 20 Februari 2013

Langit belakangan ini sedang gemar bermain dengan perasaanku. Rindu semakin mencecar dadaku tiap kali hujan jatuh.
Angin dari wewangian tubuhmu sekarang melekat dan membuat musim sendiri dalam kepalaku.
Tanpamu, nafas yang kuhirup tak penuh, jiwaku yang seharusnya satu menjadi separuh, ragaku tak lagi utuh.

Senin, 27 Agustus 2012

Last Dialogue


“Kamu bahagia?”

“Dia baik”

“Kamu berpura-pura”

“Kamu bisa apa?”

“Pergi denganku sekarang, Aku akan melihatkan kepadamu apa itu terang”

“Apa Kamu lupa, besok Aku akan menuju altar pernikahan?”

“Ini salah!!”

“Lalu, dengan pergi bersamamu malam ini, menurutmu itu hal yang benar?”

“Aku mencintaimu...”

“Aku mencintai Tuhanku”

"Tuhan Kita sama!!"

"Jika sama, Apa Kamu bisa mencintai Tuhanku juga? Apa mungkin Kau ganti sujudmu dengan berlutut?"

Sabtu, 25 Agustus 2012

BERBALAS KEJUTAN


               Firsta Wuri Agung  Baroto, lelaki yang dulu hidup dalam tiap desah nafasku. Lelaki yang pernah menjadi muara tempat Aku menyandarkan jenuh, peluh, dan segala keluh. Lelaki yang telah menyalakan percik api di dadaku.

            Hari ini, 24 April 2010, 19.00 WIB, sebuah kedai kopi sederhana yang tak begitu jauh dari rumahku, lelaki  itu ada di hadapanku. Dia masih sama dengan 3 tahun yang lalu. Potongan rambut yang sama, pendek dan tipis ala Taylor Lautner. Aroma tubuh yang sama, aroma maskulin Black Code dari Giorgio Armani yang kental, namun tetap segar. Juga selera berbusana yang sama, santai dengan jeans, kaos, dan converse buluknya. Begitupun dengan minuman kesukaannya, Dia selalu memesan secangkir coffe latte di kedai ini.

            “Hei, kok ngelamun?” Aku terkejut. Dia menyadari bahwa Aku memperhatikannya sedari tadi. Aku membenarkan posisi dudukku, menghilangkan gugup yang menyerang pundi-pundi tubuh.

            “Katanya ada yang mau diomongin?” Dia melanjutkan bertanya

          Ya, Aku harus fokus ke tujuanku mengajak Dia bertemu di sini. Awalnya, siang tadi Aku tidak sengaja membaca timeline Angga, teman Kami, yang menyebutkan bahwa pagi ini Dia sedang berada di Jogja. Tadinya Aku ragu untuk mengajaknya bertemu. Setelah Kami putus, tidak pernah ada lagi komunikasi, bahkan twitterku di-block, dan BBM-ku didelete dari daftar kontaknya. Aku juga tak pernah berniat untuk menelpon atau mengirim sms sekedar menanyakan kabarnya. Aku tahu, Dia baik-baik saja, bahkan mungkin lebih baik dengan Karina di sampingnya. Karina, wanita yang menjadi alasan Kami untuk berpisah. Wanita yang menawarkan payung, ketika hubungan Kami menjelma mendung.

            Tetapi siang tadi Aku memberanikan diri mengirimkan sebuah pesan singkat ke ponselnya untuk mengajaknya bertemu dan Dia menyetujui itu.

            “Apa kabar?” Aku membuka percakapan

            “Baik. Lintang, Aku gak punya waktu, masih banyak kerjaan kantor yang belum diselesaikan. Besok Aku harus kembali  ke Jakarta.......”

            “Agung, Aku mengajak Kamu ke sini karena Aku ingin mengundang Kamu ke pernikahanku minggu depan.”

            Ya Tuhan, apakah espresso yang tadi Aku minum tercampur racun sehingga Aku berbicara demikian lancar? Aku sendiri terkejut mendengar kalimat yang mengalir dari bibirku. Kuperhatikan dari sudutku, Agung sama sekali tak menampakkan ekspresi apapun, Dia datar. Aku menunggunya berkomentar dengan nafas yang tersengal-sengal.

            “Aku turut senang mendengar kabar baik ini, Lintang. Aku ucapkan selamat dan mendoakan Kalian menjadi keluarga yang selalu utuh dan bahagia. Tapi Aku minta maaf, sepertinya Aku tidak bisa hadir di pestamu. Karina, istriku sedang hamil tua. Aku tak bisa meninggalkan Dia sendirian....”

            AGUNG SUDAH MENIKAH??!! Benar, seharusnya tadi Aku memesan espresso yang dicampur racun saja.

Kamis, 02 Agustus 2012

Campur Tangan Tuhan


Pagi ini Aku bangun dengan tubuh lebam, sebab terlelap dalam siksa rindu yang terlampau kejam

Debar-debar di dadaku menyuarakan rindu, bahasa yang hanya dipahami oleh degup jantungmu

Seharusnya kemarin Kita tidak bertemu, rindu semakin liar tumbuh dalam pori-pori tubuhku

Kau harus tahu. Bukan Aku yang merindukanmu, namun milyaran sel di tiap ruasku

                    Aku melihat terang dimana-mana, redupku menjadi cahaya, Aku mendapatimu sebagai lentera

                    Aku jatuh cinta.

                    Bukan tanpa sengaja

                    Tuhan terlibat di dalamnya

Sunguh, kecupmu menyalakan percikan api di dadaku.

Membanjiri telaga kering dalam dadaku,

Mengalirkan ombak kecil dalam nadiku

                    Kamu, samuderaku

                    Menghanyutkan tiap jejak-jejak lukaku, menenggelamkan gerbang masa lalu

                    Kamu, jari-jari yang memberiku hangat

                    Nafas yang berada pada tiap sekat, udara yang memelukku erat

                    Kamu, kepingan ketabahan yang Kucuri dari rahim kesunyian

                    Kamu, menyetubuhi gairah rindu yang berejakulasi dalam kepalaku

Segala cemas di dadaku bisu dalam taut bibirmu

Matamu begitu teduh, Aku lupa di luar badai sedang bergemuruh

Memelukmu membungkam rindu, menghapus haru

Denganmu, bahagiaku utuh

Sebab jauh dari sisimu Aku limbung, udara di sekitarku berubah mendung

                     Jadilah semestaku, tempat kusemayamkan rindu, merebahkan segala keluh

                     Suatu waktu, Aku akan menetap di penjara yang Kubangun sendiri dari tulang rusukmu

                     Terimakasih Sayang, memberiku cinta tak berkesudahan,

                     Denganmu Aku menemukan akhir perjalanan.

                     Kelak Kita akan menyantap sarapan bersama, dalam rumah yang Kita bangun dengan tawa








Senin, 11 Juni 2012

KITA - DIA

Dulu, cinta Kita buta. Lalu Dia memberikanmu kacamata

Ketika cintaku menjelma mendung, Dia menawarkanmu sebuah payung

Saat Aku mengalungkanmu intan, mengapa justru matanya yang menangkap kilauan?

Begitu Kau menyukai caraku menuliskan puisi, sedangkan Dia bilang mencintaimu tanpa spasi

Kita selalu menyatu dalam titik-titik hujan, namun sekejap Dia memisahkan dengan genangan

Pertemuan-pertemuan yang Kita jalin pada kebun mawar, tanpa disadari diam-diam Dia menjelma duri pada bunga yang baru mekar

Baru saja Kita menikmati gugusan bintang, Dia hadir membawa cahaya bulan yang jauh lebih terang

Kau tahu, Aku mencintaimu tanpa jeda, lalu Dia berjanji menghujanimu jutaan cinta tanpa reda

Kisah yang Kita hidupkan pada ratusan malam, akhirnya mati mengenaskan sebab ditusuknya dengan jarum jam

Aku merindukanmu seperti langit senja, namun ternyata Dia tlah membawamu sampai pada garis cakrawala

Selasa, 01 Mei 2012

TERIMAKASIH, THANK YOU, KAMSIA, SUGRIYA

  1. Terimakasih Tuhan untuk hembusan nafas pertama setelah Aku terjaga dari malam sebelumnnya
  2. Terimakasih Tuhan untuk kiriman seorang yang setiap waktu mengaku rindu dan membangunkanku di tiap Subuh
  3. Terimakasih Tuhan untuk kesempatan mendengar Ibu menyuarakan surga meski tak langsung bertatap muka
  4. Terimakasih Tuhan untuk kepercayaan sehingga Aku masih bisa sibuk dalam pekerjaan
  5. Terimakasih Tuhan untuk rejeki lebih bulan ini sehingga Aku bisa membuat anak-anak yatim bisa sedikit memamerkan gigi
  6. Terimakasih Tuhan untuk kiriman rekan-rekan yang menyenangkan
  7. Terimakasih Tuhan untuk tempat tinggal yang menjauhkanku dari hal-hal janggal
  8. Terimakasih Tuhan untuk kemajuan teknologi di muka bumi sehingga Aku tidak berteman pada sepi
  9. Terimakasih Tuhan untuk kesempatan mengenal pribadi-pribadi jenaka yang membuatku tak henti tertawa dan melupakan duka
  10. Terimakasih Tuhan untuk sketsa hidup yang sungguh membuatku takjub


Terimakasih, Thank you, kamsia, sugriya :)

Jumat, 27 April 2012


Jika Kamu dulu melihatku sebagai gugusan bintang, mengapa memalingkan pandang ketika mentari datang?

Jika tak sanggup mempertahankan, mengapa dulu Kau ajarkan Aku kesetiaan?

Jika hanya berakhir pada keterpurukan, mengapa pernah menjanjikan kebahagiaan?

Jika hanya menyuarakan kepedihan, mengapa cinta ini tetap kuperjuangkan?

Jika tak mampu memperjuangkan, setidaknya ajari Aku tersenyum dalam kepedihan

Jika sudah lelah bertahan, tolong tengok Aku sekali saja dalam kubangan kekecewaan

Jika Kau tidak tahan ingin pergi, setidaknya jangan tinggalkan Aku bersama nyeri

Jika tak berniat untuk kembali, setidaknya ajarkan Aku untuk jatuh hati sekali lagi

Kamis, 12 April 2012

MIMPI YANG SIA-SIA

Kamu cukup diam, dan dengarkan Aku bercerita.


  1. Semalam Aku bermimpi, melihatmu sebagai anak kecil dengan seringai paling nakal, memercikkan genangan bekas hujan pada para pejalan kaki.
  2. Kamu terus saja Aku nikmati dari balik kaca jendela kusamku, dari jarak yang sulit diukur dengan rumus matematika manapun.
  3. Aneh. Tak ada yang dapat Kumengerti, bahkan sampai waktu ingin membunuh dirinya sendiri, Aku masih menemukanmu sebagai suatu ketidakpahaman abadi.
  4. Tanpa diduga, Kau menemukan mataku, Kau tertawa, dan mengajakku bermain lumpur di bawah gerimis itu. Tidak. Tidak, Sayang... tidak untuk kali ini.
  5. Kau memutuskan menghampiriku. Aku salah. Kau bukan hal yang ghaib, Kau nampak nyata, duduk di sisi kananku, lalu bercerita tentang Ibumu yang suka mengomel melihat tingkahmu. Aku tersenyum. Entah darimana, darahku berdesir.
  6. Sialnya, seperti tentara yang tiba-tiba menyerbu, alarm pagi itu memekik membangunkanku. Tersengal-sengal Aku, sebab pesonamu masih menguntit tiap jejak nyataku.
  7. Sampai pagi ini, Aku masih merindukanmu.

Sabtu, 07 April 2012

BUKAN KISAH FTV


Hidup ini tidak mudah, makanya dibuat FTV. Kalo aja nemu jodoh segampang cerita di FTV dimana sepasang anak muda yang gak saling kenal-tabrakan-buku berceceran-pandang-pandangan-jatuh cinta-dan akhirnya mereka hidup bahagia, mungkin Gue udah 2-3 kali kawin cerai, dan itupun jodoh Gue gak jauh dari abang gorengan atau abang somay yang sering lewat di depan kostan. Ya, soalnya gerobak Mereka yang sering Gue tabrak.

     Gue Windi, 25 tahun, lajang Ibukota yang kisah percintaannya lebih menyedihkan dari kisah Fatma Farida, ibunda Kiki Fatmala yang ditelantarkan selama DUA PULUH TAHUN. Enam kali pacaran, semua gak bertahan lama, bahkan belum ada yang genap satu tahun. Masalahnya kompleks, orang ketigalah, LDR, sampai gak dapet restu dari orang tua.

     Udah 2 tahun belakangan ini Gue jomblo. Hidup Gue gak jauh dari monitor kantor, kasur, sama cucian kotor. Biar Gue ceritain beberapa pria yang deket sama Gue akhir-akhir ini. Pertama, Ibnu Hariansyah. 2 kali kondangan bareng, 5 kali makan malam bareng, 5 kali maen ke kost. Sempet Gue kenalin sama temen deket Gue-yang-entah-gimana-akhirnya mereka malah jadian dan hidup bahagia.

     Kedua, Okta Suwiratama. 3 kali nonton bareng, 4 kali makan malem bareng, 2 kali nemenin belanja. Di kencan terakhir Gue baru tahu dari sepupunya yang ternyata temen kantor Gue kalo Dia udah punya bini.

     Ketiga, Hendra Husni Prawira. 5 kali nonton, 8 kali makan bareng, 2 kali diajak ke rumah dan ketemu keluarganya. Insecure level dewa, padahal Kita belom jadian dan gak punya komitmen apa-apa. Miris kan? Akhirnya Gue yang mundur teratur.

     Keempat, sekaligus terakhir Aditama Wisnu Pratama. Temen Gue SMA. 1 kali ke kost, temen ngobrol di YM tiap malem, 2 kali makan bareng. Denger kabar mengejutkan di jejaring sosial bahwa Dia baru saja menjalin hubungan dengan seorang wanita sontak membuat Gue sadar bahwa Dia ngangep Gue gak lebih dari sekedar sahabat.

     Makanya, Gue benci banget sama cerita FTV yang terlalu manis dan berlebihan. Love at the first sight my ass!!

     Tapi beberapa jam yang lalu semua berubah. Ceritanya gini, hari ini gedung tempat Gue kerja kebetulan ngadain simulasi kebakaran. Yang artinya, seluruh penghuni gedung ini, yang notabene terdiri dari 26 lantai diharuskan keluar. Gue sih awalnya biasa aja, sampai mata Gue nangkep satu sosok tegap berbalut atasan kemeja biru langit dan celana bahan hitam.

     1..2..3.. Yap, butuh waktu tiga detik buat kembali ke alam nyata. Oh GOD!! Apakah ini yang dinamakan cinta pada pandangan pertama seperti kisah-kisah FTV itu? Ya, emang hidup bukan FTV, tapi coba liat deh, cerita FTV kan bagus banget, always happy ending, menginspirasi. Dan heiii liat lagi, Gue sama cowok ini kan satu gedung. See, jadi ada kemungkinan Kita akan ketemu entah tiba-tiba berdua dalam lift-kenalan-ngobrol sampe gak terasa bahwa lantai yang dituju udah nyampe-janjian pulang kerja bareng-sampai akhirnya hidup bahagia atau pas Gue lagi telat-buru-buru jalan-trus gak sengaja nabrak Dia-dokumen Kita ketuker-Dia nganter dokumen Gue ke kostan-Kita jatuh cinta-dan akhirnya hidup bahagia selamanya. Mungkin aja kan?

     Yeah, harapan Gue terlalu tinggi. Karena kejadian tadi pagi dan daya imajinasi Gue yang kelewat lebay, Gue bela-belain siang ini nongkrong di kantin karyawan. Tau apa yang Gue dapet? Alih-alih ketemu pria kemeja biru, Gue malah jadi bulan-bulanan geng gosip karyawati laen.

     “Eh, liat deh Windi kasian ya, udah jomblo, makan sendirian lagi... Hihihi”

     Brengsek!!

     Pip..Pip..Pip... Handphone Gue bunyi.

Darling, Lo pulang ngantor gak ada acara kan? Shella, Tasya, sama Gue mau nonton Hizteria di Blitz. Lo nyusul ya, tiket Gue yang atur, jam 7, jangan telat.
Nb : Tasya mau ngenalin pacar barunya

Sender : Anggi kiyut

       Rese!! Ketek tripang!! Tasya udah punya pacar baru aja. Belom aja sebulan jomblo. Males ah mau gabung sama mereka. Udah paham Gue ntar di sana kayak gimana. Tasya + pacar baru, Shella + suaminya, yeah Anggi emang gak mungkin bawa pacar, lha wong pacarnya di Lampung, tapi tetep aja SATU-SATUNYA YANG MASIH JOMBLLO ITU GUE!!! Udah pasti Gue yang dibully. Sungguh nista. Tapi kangen juga sih sama mereka, udah lama gak ngumpul, terakhir pas kawinan Shella bulan lalu. Hmm, bodo’ ah, daripada ntar Gue mati bulukan di kostan semaleman. Gue bales

Siyapp!!!

Delivered : Anggi kiyut

       18.55 Gue nyampe di studio Blitz. Gak sulit menemukan mereka. Ternyata ada gunanya Anggi punya badan subur. Bahkan Gue rasa nenek-nenek rabun ayam pun gak akan kesulitan kalo disuruh nyari Dia.

     Anggi, Shella, Farhan-suami Shella, Gue. Kemana Tasya? Ah, itu!! Dia baru aja  menapakkan jejak kaki pertamanya di pintu masuk, tentu saja bersama pacar barunya......Tadaaa...PRIA KEMEJA BIRU???!!!

     Shit! Shit! Shit! Skenario FTV yang udah Gue ciptakan tadi pagi mendadak buram.

Rabu, 04 April 2012

KEKASIHNYA KEKASIHKU


Aku tak mengindahkan dering handphone yang sejak tadi memekik memenuhi ruang berukuran 4X4 ini. Ah, paling itu hanya pesan singkat dari operator seluler yang begitu perhatiannya mengingatkan nada sambung hits minggu ini, begitu pikirku. Aku sedang tidak bisa diganggu saat ini, bahkan Aku perlu menambahkan kata ‘sangat’ di depan kalimat ‘sedang tidak bisa diganggu’ tadi.

            Sejak kedatangan pacarku, Arjuna, di kost ku sehabis magrib tadi, Aku menjadi amat sibuk. Memang seminggu sebelumnya Dia sudah mengatakan akan pulang ke kampungnya, di Surabaya. Ya, memang ini bukan kepergiannya yang pertama dan juga ini hanya untuk waktu sementara. Hanya seminggu Dia mengambil cuti dari kantornya. Kangen Ibu, begitu ujarnya.

            Tapi entah Kami yang merasa sudah sehati atau sedang dikuasai birahi, rasanya berat sekali melepas kepergiannya malam itu. Rencananya Dia datang ke kostku sekedar untuk pamitan dan mengambil beberapa oleh-oleh yang sengaja Aku belikan untuk keluarganya. Dia pun mengaku tak bisa berlama-lama karena belum membereskan baju dan keperluan lain yang harus dibawa selama Dia berada di rumahnya.

            Tapi apa yang terjadi? Biar Aku ceritakan, sudah hampir setengah jam Dia disini. Awalnya Dia pamit untuk pulang, lalu Aku memeluknya. Erat. Setelah agak melonggarkan ikatan tanganku di lehernya, perlahan mata Kami bertemu. Ada hawa panas yang mengalir bersama darah di sekujur raga. Aku merasakan perlahan mukaku memerah. Sejurus kemudian tangan kokohnya perlahan menarik pinggulku untuk lebih merapat ke tubuhnya. Kami merasa sangat intim sekarang. Aku bisa merasakan denguh nafasnya dalam jarak sedekat ini.

            “Pejamin aja mata Kamu” bisiknya persis di belakang telingaku. Demi dewa dewi di khayangan, mukaku makin memanas.

            Seluruh sistem kerja otakku lumpuh. Arjuna sangat mahir membuat lidahku kelu, kata-kataku mendadak bisu. Hmm, empuk dan tebal, begitu Aku mendeskripsikan bibirnya-yang-entah-sejak-kapan tiba-tiba sudah menekan bibir bawahku. Aku menghisapnya perlahan, kunikmati setiap kecupannya yang dalam dan basah, hingga kami saling sibuk melumat, pasrah dikuasai oleh nikmat.

            Nafasku masih saja memburu meskipun ‘kecelakaan’ tadi sudah beberapa menit berlalu. Kami duduk bersisian, menepikan kepalaku di dadanya adalah satu hal yang membuat teori gravitasi tak berfungsi.

            “Hun, Aku mau ke toilet dulu bentar”

            Aku mengangguk, dengan tidak rela Aku menegakkan kepala dan membiarkannya berjalan ke belakang. Mungkin beginilah perasaan para istri yang mengantar suaminya bertugas mengamankan perang saudara di Ambon, batinku yang mulai hiperbola

          Selang dua detik pintu toilet ditutup, handphone Arjuna melengking, mengisyaratkan pesan singkat baru saja masuk. Hmmm, buka sms di handphone Pacar gak buat masuk penjara kan? Apalagi ditambah fakta bahwa Kita udah pacaran selama enam bulan belakangan dan baru saja berciuman. Oke, gak ada yang salah.

“Sayang, besok Kamu berangkat jam berapa? Aku jemput ya di bandara. Bawa oleh-oleh kan buat Aku? Aku sakau ciuman dahsyat Kamu, Yank”

Sender : Rheina cantik

         BRENGSEKKKKK!!!!!

Selasa, 03 April 2012

SEJENAK TENTANG HUJAN


“Kamu tahu, Arimbi... yang Kulihat pagi ini bukan hujan. Tetapi sisa-sisa rindu semalam dari para kekasih yang sedang kasmaran”

“Betul, Damar... Kita harus berterimakasih pada awan. Sebab saat hujan, ada beberapa hati sedu sedan mengenang Sang pujaan”

“Aku selalu menterjemahkan gerimis adalah salah satu cara langit dan bumi jika sedang melakukan kencan yang romantis. Bagaimana denganmu, Arimbi?”

“Hmm... Aku tak cukup pandai menyimpulkan. Yang jelas, di setiap hujan yang tumpah di balik sana ada seseorang yang melukiskan rindunya hingga menyerupai air bah”

“Kau pandai menyusun aksara, Arimbi”

“Tapi Aku tak cukup pandai untuk menahanmu, Damar...”


Jumat, 30 Maret 2012

THE LOST CONVERSATION

AKU : “Hai ganteng *hoeks*”
KAMU : “Dih, kok gak ikhlas gitu”
AKU : “hehehe”
KAMU : “Ahhh... kangen”
AKU : “Kangen?? Sama siapa??”
KAMU : “Kangen sama setan!! Ya sama Kamu donk...”
****

KAMU : “Lagi ngapain???
AKU : “Mikirin kamu lahhh”
KAMU : “Sama dong...”
AKU : “;-)”
KAMU : “Aku juga mikirin diri aku sendiri”
AKU : “.......... :(“
*****

AKU : “Aku ngantuk”
KAMU : “Ntar donk, baru setengah sepuluh malem”
AKU : “JANGAN TAHAN AKU!! BIARKAN AKU PERGI!!”
KAMU : “Siapa juga yang nahan.... Yaudah tidur gih. Aku mau nyari temen chat lain”
AKU : “Kamu mau selingkuh ya?!”
KAMU : “Tenang aja, Kamu kan anugerah terindah yang pernah kumiliki”
AKU : “OK. Daahh Sephia. Tunggu Aku di kota itu”
KAMU : “Bila Kau tak di sampingku, seberapa pantaskah Kau untuk Ku tunggu?”
AKU : “Buat Aku tersenyum dulu”
KAMU : “Selamat malam, pemuja rahasia”
*****

KAMU : “Mau cari yang gimana sih???”
AKU : “Nyari yang bisa ngucapin ‘Aku cinta Kamu’ dlm 15 bahasa, selama 20 detik”
KAMU : “Good!! Bahasa planet sama bahasa bawah laut dihitung gak???”
AKU : “NGGAK!!”
KAMU : “OK. Keep your promises ya”
AKU : “Yang mana?”
KAMU : “Yang tadi. Mau nyari yang bisa ngucapin ‘Aku cinta Kamu’ dalam 15 bahasa dalam 20 detik”
AKU : “I’ll Promise”
*****

AKU : “Nyet”
KAMU : “Manggil siapa, pesut?”
AKU : “Hehehe. Ganti status YM yuk, bosen nih”
KAMU : “Mau tulis apa ya? ‘Aku rindu ½ mati kepadamu?’”
AKU : “Gak mau ah. Hmmm.. Aku tulis bahasa Perancisnya, Kamu bahasa Jepangnya ya”
KAMU : “OK. Aishiteru”
AKU : “Jet’aime”
******

KAMU : “What do you think about me? Be honest...”
AKU : “Hmmm... penyanyang, gak sabaran, tertutup. Kalo Aku?”
KAMU : “Kamu aneh, but everything I like. I like the way You laugh”
AKU : “Aku juga suka sama jambul Kamu”
*******

Rabu, 21 Maret 2012




Aku rindu....
Sesederhana itu

Kamu, goresan lukis yang tak bisa dikoreksi
Kotor, ya kotor
Disini, tepat di dada kiri
Satu tempat yang dulu Kau hampiri, diam diam mewarnai satu kanvas tersembunyi, dan pergi

Kita hanya dipermainkan linikala
Anggap saja Aku pihak yang kalah
Perihal hadiah, serahkan pada semesta saja

KOPI DAN HUJAN


2 sendok kopi, 1 sendok gula, rintik hujan di jendela kaca 

Jika saja Aku tau saat itu terakhir Aku memelukmu
Belum sampai rindu membersihkan butiran-butiran debu pada halaman buku
Tengok! Bagaimana susah payah Aku menelusuri lembar demi lembar haru

2 sendok kopi, 1 sendok gula, rintik hujan di jendela kaca

Kamu, not not panjang dalam lantunan kelam
Nada nada yang kumainkan seolah menghitam
Mengapa tak Kau hunuskan pedang? Toh luka ini pun terlampau dalam

2 sendok kopi, 1 sendok gula, rintik hujan di jendela kaca

Saat itu Tuhan sedang terburu buru nampaknya
Atau mungkin Aku salah mengeja aksara?
Entahlah, bisa jadi hatimu yang memang serapuh kaca

GERIMIS DAN SOFA TUA YANG TERSISIH

"Secepat ini?"
"Harus dengan cara seperti ini?"
"Apa ini mimpi?"

Terlalu banyak pertanyaan. Begitu banyak keharuan.

Di sana, pada rintik-rintik gerimis, Kita pernah meletakkan sebongkah harapan. Di sana, pada sofa tua di kediaman, Kita pernah menyatu dalam sebuah dekapan.

Bahkan Kau lupa, seminggu belakangan Kita bergelut dalam kemesraan. Hingga Dia, yang mungkin belum tau apa arti keterpurukan, merampas Kau begitu mudahnya dari setiap perhatian.

Aku lengah!!!
Kau juga terlalu lemah!!

Apa Aku terluka? Ya. Aku terluka. Berantakan. Semua. Aku. Kamu. Dia. Kita. Semua terbengkalai, dan hanya Aku yang menyuarakan kepedihan

Tak ada lagi hati yang sedu sedan menanti gerimis pada senja. Tak ada lagi kemesraan di sofa tua. Semua menjelma debu, masing-masing menggeleparkan haru.

"Apa sudah ada yang mengisi hatimu di sana?"

"Belum"

"Mengapa?"

"Aku belum punya tipe-x"

"Maksud Kamu?"

"Untuk menghapus namamu di hatiku"

Seringan itu, Aku mau. Semudah ke toko buku, berjalan menuju rak alat tulis. Lalu Aku sengaja memilih tipe-x warna biru, kesukaanmu. Dengan langkah ringan Aku lalu membayarnya di kasir.

Aku ingin sesederhana itu melupakanmu.