Senin, 27 Agustus 2012

Last Dialogue


“Kamu bahagia?”

“Dia baik”

“Kamu berpura-pura”

“Kamu bisa apa?”

“Pergi denganku sekarang, Aku akan melihatkan kepadamu apa itu terang”

“Apa Kamu lupa, besok Aku akan menuju altar pernikahan?”

“Ini salah!!”

“Lalu, dengan pergi bersamamu malam ini, menurutmu itu hal yang benar?”

“Aku mencintaimu...”

“Aku mencintai Tuhanku”

"Tuhan Kita sama!!"

"Jika sama, Apa Kamu bisa mencintai Tuhanku juga? Apa mungkin Kau ganti sujudmu dengan berlutut?"

Sabtu, 25 Agustus 2012

BERBALAS KEJUTAN


               Firsta Wuri Agung  Baroto, lelaki yang dulu hidup dalam tiap desah nafasku. Lelaki yang pernah menjadi muara tempat Aku menyandarkan jenuh, peluh, dan segala keluh. Lelaki yang telah menyalakan percik api di dadaku.

            Hari ini, 24 April 2010, 19.00 WIB, sebuah kedai kopi sederhana yang tak begitu jauh dari rumahku, lelaki  itu ada di hadapanku. Dia masih sama dengan 3 tahun yang lalu. Potongan rambut yang sama, pendek dan tipis ala Taylor Lautner. Aroma tubuh yang sama, aroma maskulin Black Code dari Giorgio Armani yang kental, namun tetap segar. Juga selera berbusana yang sama, santai dengan jeans, kaos, dan converse buluknya. Begitupun dengan minuman kesukaannya, Dia selalu memesan secangkir coffe latte di kedai ini.

            “Hei, kok ngelamun?” Aku terkejut. Dia menyadari bahwa Aku memperhatikannya sedari tadi. Aku membenarkan posisi dudukku, menghilangkan gugup yang menyerang pundi-pundi tubuh.

            “Katanya ada yang mau diomongin?” Dia melanjutkan bertanya

          Ya, Aku harus fokus ke tujuanku mengajak Dia bertemu di sini. Awalnya, siang tadi Aku tidak sengaja membaca timeline Angga, teman Kami, yang menyebutkan bahwa pagi ini Dia sedang berada di Jogja. Tadinya Aku ragu untuk mengajaknya bertemu. Setelah Kami putus, tidak pernah ada lagi komunikasi, bahkan twitterku di-block, dan BBM-ku didelete dari daftar kontaknya. Aku juga tak pernah berniat untuk menelpon atau mengirim sms sekedar menanyakan kabarnya. Aku tahu, Dia baik-baik saja, bahkan mungkin lebih baik dengan Karina di sampingnya. Karina, wanita yang menjadi alasan Kami untuk berpisah. Wanita yang menawarkan payung, ketika hubungan Kami menjelma mendung.

            Tetapi siang tadi Aku memberanikan diri mengirimkan sebuah pesan singkat ke ponselnya untuk mengajaknya bertemu dan Dia menyetujui itu.

            “Apa kabar?” Aku membuka percakapan

            “Baik. Lintang, Aku gak punya waktu, masih banyak kerjaan kantor yang belum diselesaikan. Besok Aku harus kembali  ke Jakarta.......”

            “Agung, Aku mengajak Kamu ke sini karena Aku ingin mengundang Kamu ke pernikahanku minggu depan.”

            Ya Tuhan, apakah espresso yang tadi Aku minum tercampur racun sehingga Aku berbicara demikian lancar? Aku sendiri terkejut mendengar kalimat yang mengalir dari bibirku. Kuperhatikan dari sudutku, Agung sama sekali tak menampakkan ekspresi apapun, Dia datar. Aku menunggunya berkomentar dengan nafas yang tersengal-sengal.

            “Aku turut senang mendengar kabar baik ini, Lintang. Aku ucapkan selamat dan mendoakan Kalian menjadi keluarga yang selalu utuh dan bahagia. Tapi Aku minta maaf, sepertinya Aku tidak bisa hadir di pestamu. Karina, istriku sedang hamil tua. Aku tak bisa meninggalkan Dia sendirian....”

            AGUNG SUDAH MENIKAH??!! Benar, seharusnya tadi Aku memesan espresso yang dicampur racun saja.

Kamis, 02 Agustus 2012

Campur Tangan Tuhan


Pagi ini Aku bangun dengan tubuh lebam, sebab terlelap dalam siksa rindu yang terlampau kejam

Debar-debar di dadaku menyuarakan rindu, bahasa yang hanya dipahami oleh degup jantungmu

Seharusnya kemarin Kita tidak bertemu, rindu semakin liar tumbuh dalam pori-pori tubuhku

Kau harus tahu. Bukan Aku yang merindukanmu, namun milyaran sel di tiap ruasku

                    Aku melihat terang dimana-mana, redupku menjadi cahaya, Aku mendapatimu sebagai lentera

                    Aku jatuh cinta.

                    Bukan tanpa sengaja

                    Tuhan terlibat di dalamnya

Sunguh, kecupmu menyalakan percikan api di dadaku.

Membanjiri telaga kering dalam dadaku,

Mengalirkan ombak kecil dalam nadiku

                    Kamu, samuderaku

                    Menghanyutkan tiap jejak-jejak lukaku, menenggelamkan gerbang masa lalu

                    Kamu, jari-jari yang memberiku hangat

                    Nafas yang berada pada tiap sekat, udara yang memelukku erat

                    Kamu, kepingan ketabahan yang Kucuri dari rahim kesunyian

                    Kamu, menyetubuhi gairah rindu yang berejakulasi dalam kepalaku

Segala cemas di dadaku bisu dalam taut bibirmu

Matamu begitu teduh, Aku lupa di luar badai sedang bergemuruh

Memelukmu membungkam rindu, menghapus haru

Denganmu, bahagiaku utuh

Sebab jauh dari sisimu Aku limbung, udara di sekitarku berubah mendung

                     Jadilah semestaku, tempat kusemayamkan rindu, merebahkan segala keluh

                     Suatu waktu, Aku akan menetap di penjara yang Kubangun sendiri dari tulang rusukmu

                     Terimakasih Sayang, memberiku cinta tak berkesudahan,

                     Denganmu Aku menemukan akhir perjalanan.

                     Kelak Kita akan menyantap sarapan bersama, dalam rumah yang Kita bangun dengan tawa