Aku rindu nyawa yang bergetar di ruang dada yang paling dalam ketika tatap matamu menikam
Aku rindu letupan-letupan kecil pada bilik jantung, karna sapaanmu yang kerap membuat tersanjung
Aku rindu berbicara pada debaranmu yang jujur saat peluk Kita melebur
Aku rindu lingkar jemarimu yang hangat sewaktu jarak terkadang dirasa membuat penat
Aku rindu nafasku yang memburu tiap Kita mengikat janji akan bertemu
Kamis, 10 November 2011
Serupa lingkar senja, Kau membuatku terpesona
Diamlah sebentar saja, ada hati Kita, biarkan mereka memenuhi titahnya
Aku merasa Kita pernah bertemu di kehidupan sebelumnya, Kau memakai baju merah, lalu Kita berbicara tanpa jeda, hingga Ayah memanggilku dari beranda
Ada haru yang tiba-tiba menyeru tiap Aku mengeja namamu. Entah Aku yang sedang pilu atau Kau yang memang pantas untuk dirindu
Perlu Kau tahu, keningku lumpuh karna lelah memikul rindu sebuah hangat dari kecupmu
Jangan diam, rindu ini menuntut tuk diredamagar tak sampai pada sudut hati yang temaram
Paling tidak, saat ini Kita tak pernah lupa saling mnyematkan nama, lewat sebaris doa
Pada waktunya, punggung tanganmu akan menjadi tempat dimana Aku mengecupkan kesetiaanku sesaat setelah Kau menjadi imamku
Dan satu waktu nanti, saat Kau tak lagi sanggup menggendongku, dengan sigap Aku akan menggandengmu
Diamlah sebentar saja, ada hati Kita, biarkan mereka memenuhi titahnya
Aku merasa Kita pernah bertemu di kehidupan sebelumnya, Kau memakai baju merah, lalu Kita berbicara tanpa jeda, hingga Ayah memanggilku dari beranda
Ada haru yang tiba-tiba menyeru tiap Aku mengeja namamu. Entah Aku yang sedang pilu atau Kau yang memang pantas untuk dirindu
Perlu Kau tahu, keningku lumpuh karna lelah memikul rindu sebuah hangat dari kecupmu
Jangan diam, rindu ini menuntut tuk diredamagar tak sampai pada sudut hati yang temaram
Paling tidak, saat ini Kita tak pernah lupa saling mnyematkan nama, lewat sebaris doa
Pada waktunya, punggung tanganmu akan menjadi tempat dimana Aku mengecupkan kesetiaanku sesaat setelah Kau menjadi imamku
Dan satu waktu nanti, saat Kau tak lagi sanggup menggendongku, dengan sigap Aku akan menggandengmu
KAU DAN HUJAN
Saat hujan, beberapa kenangan saling bertabrakan
Rintik tetap jatuh ke bumi, serupa rindu yang terus menghantui
Serupa rintik hujan, Kau memang sengaja diturunkan Tuhan agar Aku tak kesepian
Aku ingin Kita bermain di halaman. Berlarian di tengah hujan. Tanpa sadar saling berpelukan
Rintik tetap jatuh ke bumi, serupa rindu yang terus menghantui
Serupa rintik hujan, Kau memang sengaja diturunkan Tuhan agar Aku tak kesepian
Aku ingin Kita bermain di halaman. Berlarian di tengah hujan. Tanpa sadar saling berpelukan
Bagimu, Kucuri selingkar cahaya pada ujung senja. Aku ingin Kau tampak merona
Bagimu, Kutampik gemuruh badai. Aku takut Kau hilang dan memuai
Bagimu, Kutelanjangi hutan yang ganas. Kau kan Kudekap hingga terakhirku bernafas
Bagimu, Kuuntaikan pelangi pada lenggokmu yang wangi. Jangan lagi Kau bermain sepi
Bagimu, Kutuang bergelas air mata kala Kau dahaga sebab rindu belum mampu bermuara
Bagimu, Kutembaki puluhan gemintang sebelum kusemayamkan di pusara hatimu, Sayang...
Bagimu, Kutampik gemuruh badai. Aku takut Kau hilang dan memuai
Bagimu, Kutelanjangi hutan yang ganas. Kau kan Kudekap hingga terakhirku bernafas
Bagimu, Kuuntaikan pelangi pada lenggokmu yang wangi. Jangan lagi Kau bermain sepi
Bagimu, Kutuang bergelas air mata kala Kau dahaga sebab rindu belum mampu bermuara
Bagimu, Kutembaki puluhan gemintang sebelum kusemayamkan di pusara hatimu, Sayang...
DAUN DAN EMBUN
Kamu serupa embun yang menetes pada permukaan daun, sedang Aku adalah akar yang setia menunggumu turun
Sengaja kutitipkan rindu yang mengepung lewat penghujung daun yang sedang berkabung
Karena serupa daun, rindu yang tampak subur pada akhirnya akan gugur ketika peluk Kita melebur
Dan pada kehidupan berikutnya Aku kan memilih menjadi daun yang tiap pagi selalu dicumbu embun
Sengaja kutitipkan rindu yang mengepung lewat penghujung daun yang sedang berkabung
Karena serupa daun, rindu yang tampak subur pada akhirnya akan gugur ketika peluk Kita melebur
Dan pada kehidupan berikutnya Aku kan memilih menjadi daun yang tiap pagi selalu dicumbu embun
Langganan:
Postingan (Atom)