Rif, apakah kamu tahu?? Ya, tentu saja kamu tidak tahu,karena aku belum memberitahumu. Tentang apa?? Tentang cerita pertama kali kita bertemu. Apakah saat itu masih terekam dalam memorimu?? Jangan kau tanya aku, tentu saja aku tidak akan pernah melupakan hal itu. Walaupun itu pertemuan yang sangat sederhana, nyaris tanpa makna.
Rif, apakah kamu tahu?? Sejak pertemuan itu aku tidak pernah mengingatmu, apalagi untuk merindu. Ya, mungkin aku terlalu sibuk dengan pencarianku. Bahkan saat kamu tiba tiba mengirimkan friend request ke akun facebookku, aku tidak terlalu antusias untuk menjalin pertemanan denganmu. Entah apa yang terjadi dengan jariku waktu itu, hingga akhirnya kini kita berteman dalam situs jejaring sosial itu.
Rif, apakah kamu tahu?? Setelah pertemuan kedua itu, aku selalu merindukanmu, Rif. Aku juga tidak tahu pasti, mengapa kita sekarang menjadi sedekat ini. Apakah ini suatu kebetulan?? Apa kamu percaya kebetulan, Rif?? AKU TIDAK!!! Semua ini pasti sudah ada yang mengaturnya. Ada Sutradara terhebat yang menciptakan kisah kita ini.
Rif, apakah kamu tahu?? Saat menulis surat ini, aku sangat sangat rindu kepadamu. BUKAN, ini bukan lelucon yang biasa kutulis di status facebookku. Benar Rif, inilah yang sedang aku rasakan. Sudah 2 malam kamu tidak meneleponku. Kemanakah dirimu?? Apakah kau juga sibuk dengan pencarianmu?? Kuharap tidak seperti itu.
Rif, apakah kamu tahu?? Aku ingin sekali meneleponmu, ingin sekali menanyakan kamu lagi dimana, apa yang sedang kamu kerjakan, dan apakah kamu juga merindukanku. Tapi rasa gengsiku terlalu besar, Rif. Ya, aku memang terlahir sebagai wanita pasif. Aku hanya bisa menunggu, menunggumu untuk berbicara rindu. Lalu mengeja cinta atas namaku
AKU,
Yang akan (selalu) menunggumu