Jumat, 27 April 2012


Jika Kamu dulu melihatku sebagai gugusan bintang, mengapa memalingkan pandang ketika mentari datang?

Jika tak sanggup mempertahankan, mengapa dulu Kau ajarkan Aku kesetiaan?

Jika hanya berakhir pada keterpurukan, mengapa pernah menjanjikan kebahagiaan?

Jika hanya menyuarakan kepedihan, mengapa cinta ini tetap kuperjuangkan?

Jika tak mampu memperjuangkan, setidaknya ajari Aku tersenyum dalam kepedihan

Jika sudah lelah bertahan, tolong tengok Aku sekali saja dalam kubangan kekecewaan

Jika Kau tidak tahan ingin pergi, setidaknya jangan tinggalkan Aku bersama nyeri

Jika tak berniat untuk kembali, setidaknya ajarkan Aku untuk jatuh hati sekali lagi

Kamis, 12 April 2012

MIMPI YANG SIA-SIA

Kamu cukup diam, dan dengarkan Aku bercerita.


  1. Semalam Aku bermimpi, melihatmu sebagai anak kecil dengan seringai paling nakal, memercikkan genangan bekas hujan pada para pejalan kaki.
  2. Kamu terus saja Aku nikmati dari balik kaca jendela kusamku, dari jarak yang sulit diukur dengan rumus matematika manapun.
  3. Aneh. Tak ada yang dapat Kumengerti, bahkan sampai waktu ingin membunuh dirinya sendiri, Aku masih menemukanmu sebagai suatu ketidakpahaman abadi.
  4. Tanpa diduga, Kau menemukan mataku, Kau tertawa, dan mengajakku bermain lumpur di bawah gerimis itu. Tidak. Tidak, Sayang... tidak untuk kali ini.
  5. Kau memutuskan menghampiriku. Aku salah. Kau bukan hal yang ghaib, Kau nampak nyata, duduk di sisi kananku, lalu bercerita tentang Ibumu yang suka mengomel melihat tingkahmu. Aku tersenyum. Entah darimana, darahku berdesir.
  6. Sialnya, seperti tentara yang tiba-tiba menyerbu, alarm pagi itu memekik membangunkanku. Tersengal-sengal Aku, sebab pesonamu masih menguntit tiap jejak nyataku.
  7. Sampai pagi ini, Aku masih merindukanmu.

Sabtu, 07 April 2012

BUKAN KISAH FTV


Hidup ini tidak mudah, makanya dibuat FTV. Kalo aja nemu jodoh segampang cerita di FTV dimana sepasang anak muda yang gak saling kenal-tabrakan-buku berceceran-pandang-pandangan-jatuh cinta-dan akhirnya mereka hidup bahagia, mungkin Gue udah 2-3 kali kawin cerai, dan itupun jodoh Gue gak jauh dari abang gorengan atau abang somay yang sering lewat di depan kostan. Ya, soalnya gerobak Mereka yang sering Gue tabrak.

     Gue Windi, 25 tahun, lajang Ibukota yang kisah percintaannya lebih menyedihkan dari kisah Fatma Farida, ibunda Kiki Fatmala yang ditelantarkan selama DUA PULUH TAHUN. Enam kali pacaran, semua gak bertahan lama, bahkan belum ada yang genap satu tahun. Masalahnya kompleks, orang ketigalah, LDR, sampai gak dapet restu dari orang tua.

     Udah 2 tahun belakangan ini Gue jomblo. Hidup Gue gak jauh dari monitor kantor, kasur, sama cucian kotor. Biar Gue ceritain beberapa pria yang deket sama Gue akhir-akhir ini. Pertama, Ibnu Hariansyah. 2 kali kondangan bareng, 5 kali makan malam bareng, 5 kali maen ke kost. Sempet Gue kenalin sama temen deket Gue-yang-entah-gimana-akhirnya mereka malah jadian dan hidup bahagia.

     Kedua, Okta Suwiratama. 3 kali nonton bareng, 4 kali makan malem bareng, 2 kali nemenin belanja. Di kencan terakhir Gue baru tahu dari sepupunya yang ternyata temen kantor Gue kalo Dia udah punya bini.

     Ketiga, Hendra Husni Prawira. 5 kali nonton, 8 kali makan bareng, 2 kali diajak ke rumah dan ketemu keluarganya. Insecure level dewa, padahal Kita belom jadian dan gak punya komitmen apa-apa. Miris kan? Akhirnya Gue yang mundur teratur.

     Keempat, sekaligus terakhir Aditama Wisnu Pratama. Temen Gue SMA. 1 kali ke kost, temen ngobrol di YM tiap malem, 2 kali makan bareng. Denger kabar mengejutkan di jejaring sosial bahwa Dia baru saja menjalin hubungan dengan seorang wanita sontak membuat Gue sadar bahwa Dia ngangep Gue gak lebih dari sekedar sahabat.

     Makanya, Gue benci banget sama cerita FTV yang terlalu manis dan berlebihan. Love at the first sight my ass!!

     Tapi beberapa jam yang lalu semua berubah. Ceritanya gini, hari ini gedung tempat Gue kerja kebetulan ngadain simulasi kebakaran. Yang artinya, seluruh penghuni gedung ini, yang notabene terdiri dari 26 lantai diharuskan keluar. Gue sih awalnya biasa aja, sampai mata Gue nangkep satu sosok tegap berbalut atasan kemeja biru langit dan celana bahan hitam.

     1..2..3.. Yap, butuh waktu tiga detik buat kembali ke alam nyata. Oh GOD!! Apakah ini yang dinamakan cinta pada pandangan pertama seperti kisah-kisah FTV itu? Ya, emang hidup bukan FTV, tapi coba liat deh, cerita FTV kan bagus banget, always happy ending, menginspirasi. Dan heiii liat lagi, Gue sama cowok ini kan satu gedung. See, jadi ada kemungkinan Kita akan ketemu entah tiba-tiba berdua dalam lift-kenalan-ngobrol sampe gak terasa bahwa lantai yang dituju udah nyampe-janjian pulang kerja bareng-sampai akhirnya hidup bahagia atau pas Gue lagi telat-buru-buru jalan-trus gak sengaja nabrak Dia-dokumen Kita ketuker-Dia nganter dokumen Gue ke kostan-Kita jatuh cinta-dan akhirnya hidup bahagia selamanya. Mungkin aja kan?

     Yeah, harapan Gue terlalu tinggi. Karena kejadian tadi pagi dan daya imajinasi Gue yang kelewat lebay, Gue bela-belain siang ini nongkrong di kantin karyawan. Tau apa yang Gue dapet? Alih-alih ketemu pria kemeja biru, Gue malah jadi bulan-bulanan geng gosip karyawati laen.

     “Eh, liat deh Windi kasian ya, udah jomblo, makan sendirian lagi... Hihihi”

     Brengsek!!

     Pip..Pip..Pip... Handphone Gue bunyi.

Darling, Lo pulang ngantor gak ada acara kan? Shella, Tasya, sama Gue mau nonton Hizteria di Blitz. Lo nyusul ya, tiket Gue yang atur, jam 7, jangan telat.
Nb : Tasya mau ngenalin pacar barunya

Sender : Anggi kiyut

       Rese!! Ketek tripang!! Tasya udah punya pacar baru aja. Belom aja sebulan jomblo. Males ah mau gabung sama mereka. Udah paham Gue ntar di sana kayak gimana. Tasya + pacar baru, Shella + suaminya, yeah Anggi emang gak mungkin bawa pacar, lha wong pacarnya di Lampung, tapi tetep aja SATU-SATUNYA YANG MASIH JOMBLLO ITU GUE!!! Udah pasti Gue yang dibully. Sungguh nista. Tapi kangen juga sih sama mereka, udah lama gak ngumpul, terakhir pas kawinan Shella bulan lalu. Hmm, bodo’ ah, daripada ntar Gue mati bulukan di kostan semaleman. Gue bales

Siyapp!!!

Delivered : Anggi kiyut

       18.55 Gue nyampe di studio Blitz. Gak sulit menemukan mereka. Ternyata ada gunanya Anggi punya badan subur. Bahkan Gue rasa nenek-nenek rabun ayam pun gak akan kesulitan kalo disuruh nyari Dia.

     Anggi, Shella, Farhan-suami Shella, Gue. Kemana Tasya? Ah, itu!! Dia baru aja  menapakkan jejak kaki pertamanya di pintu masuk, tentu saja bersama pacar barunya......Tadaaa...PRIA KEMEJA BIRU???!!!

     Shit! Shit! Shit! Skenario FTV yang udah Gue ciptakan tadi pagi mendadak buram.

Rabu, 04 April 2012

KEKASIHNYA KEKASIHKU


Aku tak mengindahkan dering handphone yang sejak tadi memekik memenuhi ruang berukuran 4X4 ini. Ah, paling itu hanya pesan singkat dari operator seluler yang begitu perhatiannya mengingatkan nada sambung hits minggu ini, begitu pikirku. Aku sedang tidak bisa diganggu saat ini, bahkan Aku perlu menambahkan kata ‘sangat’ di depan kalimat ‘sedang tidak bisa diganggu’ tadi.

            Sejak kedatangan pacarku, Arjuna, di kost ku sehabis magrib tadi, Aku menjadi amat sibuk. Memang seminggu sebelumnya Dia sudah mengatakan akan pulang ke kampungnya, di Surabaya. Ya, memang ini bukan kepergiannya yang pertama dan juga ini hanya untuk waktu sementara. Hanya seminggu Dia mengambil cuti dari kantornya. Kangen Ibu, begitu ujarnya.

            Tapi entah Kami yang merasa sudah sehati atau sedang dikuasai birahi, rasanya berat sekali melepas kepergiannya malam itu. Rencananya Dia datang ke kostku sekedar untuk pamitan dan mengambil beberapa oleh-oleh yang sengaja Aku belikan untuk keluarganya. Dia pun mengaku tak bisa berlama-lama karena belum membereskan baju dan keperluan lain yang harus dibawa selama Dia berada di rumahnya.

            Tapi apa yang terjadi? Biar Aku ceritakan, sudah hampir setengah jam Dia disini. Awalnya Dia pamit untuk pulang, lalu Aku memeluknya. Erat. Setelah agak melonggarkan ikatan tanganku di lehernya, perlahan mata Kami bertemu. Ada hawa panas yang mengalir bersama darah di sekujur raga. Aku merasakan perlahan mukaku memerah. Sejurus kemudian tangan kokohnya perlahan menarik pinggulku untuk lebih merapat ke tubuhnya. Kami merasa sangat intim sekarang. Aku bisa merasakan denguh nafasnya dalam jarak sedekat ini.

            “Pejamin aja mata Kamu” bisiknya persis di belakang telingaku. Demi dewa dewi di khayangan, mukaku makin memanas.

            Seluruh sistem kerja otakku lumpuh. Arjuna sangat mahir membuat lidahku kelu, kata-kataku mendadak bisu. Hmm, empuk dan tebal, begitu Aku mendeskripsikan bibirnya-yang-entah-sejak-kapan tiba-tiba sudah menekan bibir bawahku. Aku menghisapnya perlahan, kunikmati setiap kecupannya yang dalam dan basah, hingga kami saling sibuk melumat, pasrah dikuasai oleh nikmat.

            Nafasku masih saja memburu meskipun ‘kecelakaan’ tadi sudah beberapa menit berlalu. Kami duduk bersisian, menepikan kepalaku di dadanya adalah satu hal yang membuat teori gravitasi tak berfungsi.

            “Hun, Aku mau ke toilet dulu bentar”

            Aku mengangguk, dengan tidak rela Aku menegakkan kepala dan membiarkannya berjalan ke belakang. Mungkin beginilah perasaan para istri yang mengantar suaminya bertugas mengamankan perang saudara di Ambon, batinku yang mulai hiperbola

          Selang dua detik pintu toilet ditutup, handphone Arjuna melengking, mengisyaratkan pesan singkat baru saja masuk. Hmmm, buka sms di handphone Pacar gak buat masuk penjara kan? Apalagi ditambah fakta bahwa Kita udah pacaran selama enam bulan belakangan dan baru saja berciuman. Oke, gak ada yang salah.

“Sayang, besok Kamu berangkat jam berapa? Aku jemput ya di bandara. Bawa oleh-oleh kan buat Aku? Aku sakau ciuman dahsyat Kamu, Yank”

Sender : Rheina cantik

         BRENGSEKKKKK!!!!!

Selasa, 03 April 2012

SEJENAK TENTANG HUJAN


“Kamu tahu, Arimbi... yang Kulihat pagi ini bukan hujan. Tetapi sisa-sisa rindu semalam dari para kekasih yang sedang kasmaran”

“Betul, Damar... Kita harus berterimakasih pada awan. Sebab saat hujan, ada beberapa hati sedu sedan mengenang Sang pujaan”

“Aku selalu menterjemahkan gerimis adalah salah satu cara langit dan bumi jika sedang melakukan kencan yang romantis. Bagaimana denganmu, Arimbi?”

“Hmm... Aku tak cukup pandai menyimpulkan. Yang jelas, di setiap hujan yang tumpah di balik sana ada seseorang yang melukiskan rindunya hingga menyerupai air bah”

“Kau pandai menyusun aksara, Arimbi”

“Tapi Aku tak cukup pandai untuk menahanmu, Damar...”