Aku tak mengindahkan dering handphone yang sejak tadi memekik memenuhi ruang berukuran 4X4 ini. Ah, paling itu hanya pesan singkat dari operator seluler yang begitu perhatiannya mengingatkan nada sambung hits minggu ini, begitu pikirku. Aku sedang tidak bisa diganggu saat ini, bahkan Aku perlu menambahkan kata ‘sangat’ di depan kalimat ‘sedang tidak bisa diganggu’ tadi.
Sejak kedatangan pacarku, Arjuna, di kost ku sehabis magrib tadi, Aku menjadi amat sibuk. Memang seminggu sebelumnya Dia sudah mengatakan akan pulang ke kampungnya, di Surabaya. Ya, memang ini bukan kepergiannya yang pertama dan juga ini hanya untuk waktu sementara. Hanya seminggu Dia mengambil cuti dari kantornya. Kangen Ibu, begitu ujarnya.
Tapi entah Kami yang merasa sudah sehati atau sedang dikuasai birahi, rasanya berat sekali melepas kepergiannya malam itu. Rencananya Dia datang ke kostku sekedar untuk pamitan dan mengambil beberapa oleh-oleh yang sengaja Aku belikan untuk keluarganya. Dia pun mengaku tak bisa berlama-lama karena belum membereskan baju dan keperluan lain yang harus dibawa selama Dia berada di rumahnya.
Tapi apa yang terjadi? Biar Aku ceritakan, sudah hampir setengah jam Dia disini. Awalnya Dia pamit untuk pulang, lalu Aku memeluknya. Erat. Setelah agak melonggarkan ikatan tanganku di lehernya, perlahan mata Kami bertemu. Ada hawa panas yang mengalir bersama darah di sekujur raga. Aku merasakan perlahan mukaku memerah. Sejurus kemudian tangan kokohnya perlahan menarik pinggulku untuk lebih merapat ke tubuhnya. Kami merasa sangat intim sekarang. Aku bisa merasakan denguh nafasnya dalam jarak sedekat ini.
“Pejamin aja mata Kamu” bisiknya persis di belakang telingaku. Demi dewa dewi di khayangan, mukaku makin memanas.
Seluruh sistem kerja otakku lumpuh. Arjuna sangat mahir membuat lidahku kelu, kata-kataku mendadak bisu. Hmm, empuk dan tebal, begitu Aku mendeskripsikan bibirnya-yang-entah-sejak-kapan tiba-tiba sudah menekan bibir bawahku. Aku menghisapnya perlahan, kunikmati setiap kecupannya yang dalam dan basah, hingga kami saling sibuk melumat, pasrah dikuasai oleh nikmat.
Nafasku masih saja memburu meskipun ‘kecelakaan’ tadi sudah beberapa menit berlalu. Kami duduk bersisian, menepikan kepalaku di dadanya adalah satu hal yang membuat teori gravitasi tak berfungsi.
“Hun, Aku mau ke toilet dulu bentar”
Aku mengangguk, dengan tidak rela Aku menegakkan kepala dan membiarkannya berjalan ke belakang. Mungkin beginilah perasaan para istri yang mengantar suaminya bertugas mengamankan perang saudara di Ambon, batinku yang mulai hiperbola
Selang dua detik pintu toilet ditutup, handphone Arjuna melengking, mengisyaratkan pesan singkat baru saja masuk. Hmmm, buka sms di handphone Pacar gak buat masuk penjara kan? Apalagi ditambah fakta bahwa Kita udah pacaran selama enam bulan belakangan dan baru saja berciuman. Oke, gak ada yang salah.
“Sayang, besok Kamu berangkat jam berapa? Aku jemput ya di bandara. Bawa oleh-oleh kan buat Aku? Aku sakau ciuman dahsyat Kamu, Yank”
Sender : Rheina cantik
BRENGSEKKKKK!!!!!
lucu unik,,,sedikit vulgar,,but its ok,,kaya nya pengalaman pribaddi ,,hohoho,,,n why rheina???
BalasHapusHeheheeh... murni fiksi. Btw, makasih udah baca :)
Hapus