“Kamu tahu, Arimbi... yang Kulihat pagi ini bukan hujan. Tetapi sisa-sisa rindu semalam dari para kekasih yang sedang kasmaran”
“Betul, Damar... Kita harus berterimakasih pada awan. Sebab saat hujan, ada beberapa hati sedu sedan mengenang Sang pujaan”
“Aku selalu menterjemahkan gerimis adalah salah satu cara langit dan bumi jika sedang melakukan kencan yang romantis. Bagaimana denganmu, Arimbi?”
“Hmm... Aku tak cukup pandai menyimpulkan. Yang jelas, di setiap hujan yang tumpah di balik sana ada seseorang yang melukiskan rindunya hingga menyerupai air bah”
“Kau pandai menyusun aksara, Arimbi”
“Tapi Aku tak cukup pandai untuk menahanmu, Damar...”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar