Firsta Wuri Agung Baroto, lelaki yang dulu hidup dalam tiap desah
nafasku. Lelaki yang pernah menjadi muara tempat Aku menyandarkan jenuh, peluh,
dan segala keluh. Lelaki yang telah menyalakan percik api di dadaku.
Hari
ini, 24 April 2010, 19.00 WIB, sebuah kedai kopi sederhana yang tak begitu jauh
dari rumahku, lelaki itu ada di
hadapanku. Dia masih sama dengan 3 tahun yang lalu. Potongan rambut yang sama,
pendek dan tipis ala Taylor Lautner. Aroma tubuh yang sama, aroma maskulin Black
Code dari Giorgio Armani yang kental, namun tetap segar. Juga selera berbusana
yang sama, santai dengan jeans, kaos, dan converse buluknya. Begitupun dengan
minuman kesukaannya, Dia selalu memesan secangkir coffe latte di kedai ini.
“Hei,
kok ngelamun?” Aku terkejut. Dia menyadari bahwa Aku memperhatikannya sedari
tadi. Aku membenarkan posisi dudukku, menghilangkan gugup yang menyerang
pundi-pundi tubuh.
“Katanya
ada yang mau diomongin?” Dia melanjutkan bertanya
Ya,
Aku harus fokus ke tujuanku mengajak Dia bertemu di sini. Awalnya, siang tadi
Aku tidak sengaja membaca timeline Angga, teman Kami, yang menyebutkan bahwa
pagi ini Dia sedang berada di Jogja. Tadinya Aku ragu untuk mengajaknya
bertemu. Setelah Kami putus, tidak pernah ada lagi komunikasi, bahkan twitterku
di-block, dan BBM-ku didelete dari daftar kontaknya. Aku juga tak pernah
berniat untuk menelpon atau mengirim sms sekedar menanyakan kabarnya. Aku tahu,
Dia baik-baik saja, bahkan mungkin lebih baik dengan Karina di sampingnya.
Karina, wanita yang menjadi alasan Kami untuk berpisah. Wanita yang menawarkan
payung, ketika hubungan Kami menjelma mendung.
Tetapi
siang tadi Aku memberanikan diri mengirimkan sebuah pesan singkat ke ponselnya
untuk mengajaknya bertemu dan Dia menyetujui itu.
“Apa
kabar?” Aku membuka percakapan
“Baik.
Lintang, Aku gak punya waktu, masih banyak kerjaan kantor yang belum
diselesaikan. Besok Aku harus kembali ke
Jakarta.......”
“Agung,
Aku mengajak Kamu ke sini karena Aku ingin mengundang Kamu ke pernikahanku
minggu depan.”
Ya
Tuhan, apakah espresso yang tadi Aku minum tercampur racun sehingga Aku
berbicara demikian lancar? Aku sendiri terkejut mendengar kalimat yang mengalir
dari bibirku. Kuperhatikan dari sudutku, Agung sama sekali tak menampakkan
ekspresi apapun, Dia datar. Aku menunggunya berkomentar dengan nafas yang
tersengal-sengal.
“Aku
turut senang mendengar kabar baik ini, Lintang. Aku ucapkan selamat dan
mendoakan Kalian menjadi keluarga yang selalu utuh dan bahagia. Tapi Aku minta
maaf, sepertinya Aku tidak bisa hadir di pestamu. Karina, istriku sedang hamil
tua. Aku tak bisa meninggalkan Dia sendirian....”
AGUNG
SUDAH MENIKAH??!! Benar, seharusnya tadi Aku memesan espresso yang dicampur
racun saja.
Semalam Aku bermimpi, melihatmu sebagai anak kecil dengan seringai paling nakal, memercikkan genangan bekas hujan pada para pejalan kaki.
Kamu terus saja Aku nikmati dari balik kaca jendela kusamku, dari jarak yang sulit diukur dengan rumus matematika manapun.
Aneh. Tak ada yang dapat Kumengerti, bahkan sampai waktu ingin membunuh dirinya sendiri, Aku masih menemukanmu sebagai suatu ketidakpahaman abadi.
Tanpa diduga, Kau menemukan mataku, Kau tertawa, dan mengajakku bermain lumpur di bawah gerimis itu. Tidak. Tidak, Sayang... tidak untuk kali ini.
Kau memutuskan menghampiriku. Aku salah. Kau bukan hal yang ghaib, Kau nampak nyata, duduk di sisi kananku, lalu bercerita tentang Ibumu yang suka mengomel melihat tingkahmu. Aku tersenyum. Entah darimana, darahku berdesir.
Sialnya, seperti tentara yang tiba-tiba menyerbu, alarm pagi itu memekik membangunkanku. Tersengal-sengal Aku, sebab pesonamu masih menguntit tiap jejak nyataku.
Hidup ini tidak mudah, makanya dibuat FTV. Kalo aja nemu jodoh segampang cerita di FTV dimana sepasang anak muda yang gak saling kenal-tabrakan-buku berceceran-pandang-pandangan-jatuh cinta-dan akhirnya mereka hidup bahagia, mungkin Gue udah 2-3 kali kawin cerai, dan itupun jodoh Gue gak jauh dari abang gorengan atau abang somay yang sering lewat di depan kostan. Ya, soalnya gerobak Mereka yang sering Gue tabrak.
Gue Windi, 25 tahun, lajang Ibukota yang kisah percintaannya lebih menyedihkan dari kisah Fatma Farida, ibunda Kiki Fatmala yang ditelantarkan selama DUA PULUH TAHUN. Enam kali pacaran, semua gak bertahan lama, bahkan belum ada yang genap satu tahun. Masalahnya kompleks, orang ketigalah, LDR, sampai gak dapet restu dari orang tua.
Udah 2 tahun belakangan ini Gue jomblo. Hidup Gue gak jauh dari monitor kantor, kasur, sama cucian kotor. Biar Gue ceritain beberapa pria yang deket sama Gue akhir-akhir ini. Pertama, Ibnu Hariansyah. 2 kali kondangan bareng, 5 kali makan malam bareng, 5 kali maen ke kost. Sempet Gue kenalin sama temen deket Gue-yang-entah-gimana-akhirnya mereka malah jadian dan hidup bahagia.
Kedua, Okta Suwiratama. 3 kali nonton bareng, 4 kali makan malem bareng, 2 kali nemenin belanja. Di kencan terakhir Gue baru tahu dari sepupunya yang ternyata temen kantor Gue kalo Dia udah punya bini.
Ketiga, Hendra Husni Prawira. 5 kali nonton, 8 kali makan bareng, 2 kali diajak ke rumah dan ketemu keluarganya. Insecure level dewa, padahal Kita belom jadian dan gak punya komitmen apa-apa. Miris kan? Akhirnya Gue yang mundur teratur.
Keempat, sekaligus terakhir Aditama Wisnu Pratama. Temen Gue SMA. 1 kali ke kost, temen ngobrol di YM tiap malem, 2 kali makan bareng. Denger kabar mengejutkan di jejaring sosial bahwa Dia baru saja menjalin hubungan dengan seorang wanita sontak membuat Gue sadar bahwa Dia ngangep Gue gak lebih dari sekedar sahabat.
Makanya, Gue benci banget sama cerita FTV yang terlalu manis dan berlebihan. Love at the first sight my ass!!
Tapi beberapa jam yang lalu semua berubah. Ceritanya gini, hari ini gedung tempat Gue kerja kebetulan ngadain simulasi kebakaran. Yang artinya, seluruh penghuni gedung ini, yang notabene terdiri dari 26 lantai diharuskan keluar. Gue sih awalnya biasa aja, sampai mata Gue nangkep satu sosok tegap berbalut atasan kemeja biru langit dan celana bahan hitam.
1..2..3.. Yap, butuh waktu tiga detik buat kembali ke alam nyata. Oh GOD!! Apakah ini yang dinamakan cinta pada pandangan pertama seperti kisah-kisah FTV itu? Ya, emang hidup bukan FTV, tapi coba liat deh, cerita FTV kan bagus banget, always happy ending, menginspirasi. Dan heiii liat lagi, Gue sama cowok ini kan satu gedung. See, jadi ada kemungkinan Kita akan ketemu entah tiba-tiba berdua dalam lift-kenalan-ngobrol sampe gak terasa bahwa lantai yang dituju udah nyampe-janjian pulang kerja bareng-sampai akhirnya hidup bahagia atau pas Gue lagi telat-buru-buru jalan-trus gak sengaja nabrak Dia-dokumen Kita ketuker-Dia nganter dokumen Gue ke kostan-Kita jatuh cinta-dan akhirnya hidup bahagia selamanya. Mungkin aja kan?
Yeah, harapan Gue terlalu tinggi. Karena kejadian tadi pagi dan daya imajinasi Gue yang kelewat lebay, Gue bela-belain siang ini nongkrong di kantin karyawan. Tau apa yang Gue dapet? Alih-alih ketemu pria kemeja biru, Gue malah jadi bulan-bulanan geng gosip karyawati laen.
“Eh, liat deh Windi kasian ya, udah jomblo, makan sendirian lagi... Hihihi”
Brengsek!!
Pip..Pip..Pip... Handphone Gue bunyi.
Darling, Lo pulang ngantor gak ada acara kan? Shella, Tasya, sama Gue mau nonton Hizteria di Blitz. Lo nyusul ya, tiket Gue yang atur, jam 7, jangan telat.
Nb : Tasya mau ngenalin pacar barunya
Sender : Anggi kiyut
Rese!! Ketek tripang!! Tasya udah punya pacar baru aja. Belom aja sebulan jomblo. Males ah mau gabung sama mereka. Udah paham Gue ntar di sana kayak gimana. Tasya + pacar baru, Shella + suaminya, yeah Anggi emang gak mungkin bawa pacar, lha wong pacarnya di Lampung, tapi tetep aja SATU-SATUNYA YANG MASIH JOMBLLO ITU GUE!!! Udah pasti Gue yang dibully. Sungguh nista. Tapi kangen juga sih sama mereka, udah lama gak ngumpul, terakhir pas kawinan Shella bulan lalu. Hmm, bodo’ ah, daripada ntar Gue mati bulukan di kostan semaleman. Gue bales
Siyapp!!!
Delivered : Anggi kiyut
18.55 Gue nyampe di studio Blitz. Gak sulit menemukan mereka. Ternyata ada gunanya Anggi punya badan subur. Bahkan Gue rasa nenek-nenek rabun ayam pun gak akan kesulitan kalo disuruh nyari Dia.
Anggi, Shella, Farhan-suami Shella, Gue. Kemana Tasya? Ah, itu!! Dia baru aja menapakkan jejak kaki pertamanya di pintu masuk, tentu saja bersama pacar barunya......Tadaaa...PRIA KEMEJA BIRU???!!!
Shit! Shit! Shit! Skenario FTV yang udah Gue ciptakan tadi pagi mendadak buram.
Aku tak mengindahkan dering handphone yang sejak tadi memekik memenuhi ruang berukuran 4X4 ini. Ah, paling itu hanya pesan singkat dari operator seluler yang begitu perhatiannya mengingatkan nada sambung hits minggu ini, begitu pikirku. Aku sedang tidak bisa diganggu saat ini, bahkan Aku perlu menambahkan kata ‘sangat’ di depan kalimat ‘sedang tidak bisa diganggu’ tadi.
Sejak kedatangan pacarku, Arjuna, di kost ku sehabis magrib tadi, Aku menjadi amat sibuk. Memang seminggu sebelumnya Dia sudah mengatakan akan pulang ke kampungnya, di Surabaya. Ya, memang ini bukan kepergiannya yang pertama dan juga ini hanya untuk waktu sementara. Hanya seminggu Dia mengambil cuti dari kantornya. Kangen Ibu, begitu ujarnya.
Tapi entah Kami yang merasa sudah sehati atau sedang dikuasai birahi, rasanya berat sekali melepas kepergiannya malam itu. Rencananya Dia datang ke kostku sekedar untuk pamitan dan mengambil beberapa oleh-oleh yang sengaja Aku belikan untuk keluarganya. Dia pun mengaku tak bisa berlama-lama karena belum membereskan baju dan keperluan lain yang harus dibawa selama Dia berada di rumahnya.
Tapi apa yang terjadi? Biar Aku ceritakan, sudah hampir setengah jam Dia disini. Awalnya Dia pamit untuk pulang, lalu Aku memeluknya. Erat. Setelah agak melonggarkan ikatan tanganku di lehernya, perlahan mata Kami bertemu. Ada hawa panas yang mengalir bersama darah di sekujur raga. Aku merasakan perlahan mukaku memerah. Sejurus kemudian tangan kokohnya perlahan menarik pinggulku untuk lebih merapat ke tubuhnya. Kami merasa sangat intim sekarang. Aku bisa merasakan denguh nafasnya dalam jarak sedekat ini.
“Pejamin aja mata Kamu” bisiknya persis di belakang telingaku. Demi dewa dewi di khayangan, mukaku makin memanas.
Seluruh sistem kerja otakku lumpuh. Arjuna sangat mahir membuat lidahku kelu, kata-kataku mendadak bisu. Hmm, empuk dan tebal, begitu Aku mendeskripsikan bibirnya-yang-entah-sejak-kapan tiba-tiba sudah menekan bibir bawahku. Aku menghisapnya perlahan, kunikmati setiap kecupannya yang dalam dan basah, hingga kami saling sibuk melumat, pasrah dikuasai oleh nikmat.
Nafasku masih saja memburu meskipun ‘kecelakaan’ tadi sudah beberapa menit berlalu. Kami duduk bersisian, menepikan kepalaku di dadanya adalah satu hal yang membuat teori gravitasi tak berfungsi.
“Hun, Aku mau ke toilet dulu bentar”
Aku mengangguk, dengan tidak rela Aku menegakkan kepala dan membiarkannya berjalan ke belakang. Mungkin beginilah perasaan para istri yang mengantar suaminya bertugas mengamankan perang saudara di Ambon, batinku yang mulai hiperbola
Selang dua detik pintu toilet ditutup, handphone Arjuna melengking, mengisyaratkan pesan singkat baru saja masuk. Hmmm, buka sms di handphone Pacar gak buat masuk penjara kan? Apalagi ditambah fakta bahwa Kita udah pacaran selama enam bulan belakangan dan baru saja berciuman. Oke, gak ada yang salah.
“Sayang, besok Kamu berangkat jam berapa? Aku jemput ya di bandara. Bawa oleh-oleh kan buat Aku? Aku sakau ciuman dahsyat Kamu, Yank”
“Kamu tahu, Arimbi... yang Kulihat pagi ini bukan hujan. Tetapi sisa-sisa rindu semalam dari para kekasih yang sedang kasmaran”
“Betul, Damar... Kita harus berterimakasih pada awan. Sebab saat hujan, ada beberapa hati sedu sedan mengenang Sang pujaan”
“Aku selalu menterjemahkan gerimis adalah salah satu cara langit dan bumi jika sedang melakukan kencan yang romantis. Bagaimana denganmu, Arimbi?”
“Hmm... Aku tak cukup pandai menyimpulkan. Yang jelas, di setiap hujan yang tumpah di balik sana ada seseorang yang melukiskan rindunya hingga menyerupai air bah”
“Kau pandai menyusun aksara, Arimbi”
“Tapi Aku tak cukup pandai untuk menahanmu, Damar...”
Terlalu banyak pertanyaan. Begitu banyak keharuan.
Di sana, pada rintik-rintik gerimis, Kita pernah meletakkan sebongkah harapan. Di sana, pada sofa tua di kediaman, Kita pernah menyatu dalam sebuah dekapan.
Bahkan Kau lupa, seminggu belakangan Kita bergelut dalam kemesraan. Hingga Dia, yang mungkin belum tau apa arti keterpurukan, merampas Kau begitu mudahnya dari setiap perhatian.
Aku lengah!!!
Kau juga terlalu lemah!!
Apa Aku terluka? Ya. Aku terluka. Berantakan. Semua. Aku. Kamu. Dia. Kita. Semua terbengkalai, dan hanya Aku yang menyuarakan kepedihan
Tak ada lagi hati yang sedu sedan menanti gerimis pada senja. Tak ada lagi kemesraan di sofa tua. Semua menjelma debu, masing-masing menggeleparkan haru.
"Apa sudah ada yang mengisi hatimu di sana?"
"Belum"
"Mengapa?"
"Aku belum punya tipe-x"
"Maksud Kamu?"
"Untuk menghapus namamu di hatiku"
Seringan itu, Aku mau. Semudah ke toko buku, berjalan menuju rak alat tulis. Lalu Aku sengaja memilih tipe-x warna biru, kesukaanmu. Dengan langkah ringan Aku lalu membayarnya di kasir.
Aku ingin sesederhana itu melupakanmu.
Jumat, 16 Maret 2012
Apa kabar handai taulan, sanak kerabat, insan-insan yg dimuliakan Allah? Sekiranya Aku memohon maaf apabila di hati handai taulan, sanak kerabat, dan insan yg dimuliakan Allah sekalian terbersit suatu perasaan rindu yg lama terkatung-katung karna penulis tak jua membuat postingan.*oke,hiperbola
Tujuh bulan tinggal di kabupaten di pinggiran samudera Hindia di kaki gunung Tanggamus *gak usah tanya dimana,goggling bisa kaleee* di ujung Lampung dimana modem gak konek, itulah alasan blog ini mati suri. (coba hitung berapa kata di- kalimat tadi). Bisa aja sih ke warnet, tapi yah.. Kalian kan tau sebgai wanita muslimah nan solehah dan selalu menjaga amanah kedua orang tua, rasanya tak pantas bermain berlama-lama di bilik warnet yg sepi dan remang. Dan, sekarang gue jadi ngerasa balik lagi ke masa-masa awal dimana gue baru bikin blog. Bingung, resah, gelisah, dan celana basah. Yak, gue bingung mau posting apaan. Gue resah karna belom gajian. Gelisah 2 minggu belom ketemu pacar (celana basah tak perlu utk diungkapkan di tengah-tengah handai taulan, sanak kerabat, dan insan-insan yg dimuliakan Allah ya*)
Hmmmm, Gue mau flash back ke kejadian yg belum lama terjadi, tepatnya 16 Februari, tepatnya disaat 24 tahun yg lalu mbrojollah, errrr... apa ya bahasa yg pantas. Wait, ummm... menyembullah. Ok, masih tidak pantas. Pokoknya pas Gue ulang tahun lah dan dikasih surprise
Mungkin sudah biasa ya dimana seorang yg ulang tahun, jam 12 tepat kamarnya diketok-dinyanyiin happy birthday dengan dibawakan seonggok kue ultah yg di atasnya bertengger angka2 aib itu. Yaaa tapi buat Gue luar biasa banget. Karena selain cantik, semlohai, dan beriman kokoh, gue juga sangat menghargai yg namanya kejutan, sesederhana apapun itu. Apalagi dr orang yg spesial. Kalo HTSKDIIYDA (handai taulan, sanak kerabat, dan insan-insan yg dimuliakan Allah) sekarang berpikiran bahwa malam itu yg bawa kue serta menggedor mesra pintu kamar Gue saat itu adalah pacar Gue, itu SELI BESI, alias salah besar. Ini kronologinya
1.Tanggal 12 Februari malem, Gue berangkat ke Lampung dari Palembang. For Your Information, kampung Gue di Palembang, dan Gue kerjanya di Lampung. Kebetulan hari itu Gue pas mudik, dan malemnya berangkat lagi ke Lampung krn Senennya udah hrs masuk kerja. *kayak orang bener ya kalimat gue, jangann kaget.
Kebetulan, pacar Gue, sebut saja mangga. Waittt...kenapa mangga? Karena bunga atau mawar sdh biasa, lagian pacar Gue kan laki, yg pas ya nama samarannya mangga. Pikir deh, mangga kan tumbuhan dikotil, berbiji dua. Sampe sini paham kan?
Oke, fokus ke cerita, jgn hiraukan biji yg dua. nah kebetulan mangga lagi libur kerja seminggu jadilah dia nemenin Gue ke lampung.
2.Tanggal 13 Februari, Kita layaknya ABG ABG ibukota yg baru mengenal cinta dan indahnya dunia remaja, pulang kerja Gue dijemput, makan malem bersama, belanja-belanja cantik, ngobrol-ngobrol seru, grepe-grepe nakal, gelayut-gelayut manja, remas-remas nista (3 hal terakhir tidak benar ada dan baiknya jangan kotori pikiran Kalian dgn membayangkannya)
3.Tanggal 14 Februari pagi setelah nganter Gue ngantor dia pulang ke Palembang krn besoknya udah masuk kerja. Heiii Pleaseee... tgl 16 Gue ultah, dan Dia pergi aja gitu, tanpa niat ngambil cuti atau apa buat ultah Gue gitu.*tetooot mengulang kata gitu. Pokoknya hari itu Aku cedih, gak nafsu makan (babi), gak mau minum (bir). Huh!
4.Tanggal 16 Februari jam 00.00 Gue bangun karna kamar gue digedor temen kost yg udah kering nungguin Gue di depan kamar (ya, Gue susah banget dibangunin pada waktu itu, pacar Gue aja sampe nelp 5 kali) dengan kue tart berhiaskan fhoto Kita, yg sengaja udah Dia pesen sebelumnya. How sweet. Utk 5 detik pertama Gue sempet bengong bego.
Ini fhoto tartnya, dan Gue bangga sudah makan kepala pacar sendiri.huahahah
Terimakasih mangga buat surprisenya, ooohhh rasanya Aku ingin menggigit buahmu yg ranum dan melumat bijimu.. ohhhhh
Kebahagiaan gak sampai situ saja. Karena tepat satu hari setelah Gue ultah, giliran temen satu kost Gue, Vera yg ultah. Dan, disini Gue kasih tips ya buat HTSKDIIYDA (handai taulan, sanak kerabat, dan insan-insan yg dimuliakan Allah) sekalian utk memilih teman yg ultahnya berdekatan, lebih bagus lagi kalo sama, dan usahakan jangan hanya 1 teman, lebih banyak lebih bagus. Dekati mereka, kenali pribadinya, jalin keakraban yg intim. Dan violaaaa... saat Kalian ultah, Kalian bisa patungan buat traktiran dan hitung brp biaya yg bisa Kalian hemat. Ya, ini tips buat HTSKDIIYDA (handai taulan, sanak kerabat, dan insan-insan yg dimuliakan Allah), kalo Gue sih orangnya gak pelit. Kalo Gue ultah sih Gue traktir semuanya, tanpa terkecuali. Patungan, apa itu patungan, traktiran kok patungan. Cih!! Tapi Gue adalah pribadi yg gak tega melihat sahabat sendiri susah, apalagi Dia mendatangi Lo dengan muka melas,mata berkaca-kaca, dan hampir keluar busa dr mulutnya (Tuhan, semoga Vera gak baca ini). Yah akhirnya malem minggu setelahnya Kita (Gue dan Vera) patungan buat nraktir temen-temen Gue yg gak biasa makan enak itu (ini Gue gak tega aja liat temen susah ya, kalo duit Gue sih banyak, dan Gue orangnya gak itungan) *pembaca spontan berteriak WUUUUUUU.....
Dan inilah muka-muka rakyat jelata yg sigap banget kalo diajak makan enak, apalagi gratisan. Yah, sekalikali Kita memang harus berbagi dgn kaum ini
Gue yg pake jilbab merah *penting banget kan infonya