Sabtu, 25 Agustus 2012

BERBALAS KEJUTAN


               Firsta Wuri Agung  Baroto, lelaki yang dulu hidup dalam tiap desah nafasku. Lelaki yang pernah menjadi muara tempat Aku menyandarkan jenuh, peluh, dan segala keluh. Lelaki yang telah menyalakan percik api di dadaku.

            Hari ini, 24 April 2010, 19.00 WIB, sebuah kedai kopi sederhana yang tak begitu jauh dari rumahku, lelaki  itu ada di hadapanku. Dia masih sama dengan 3 tahun yang lalu. Potongan rambut yang sama, pendek dan tipis ala Taylor Lautner. Aroma tubuh yang sama, aroma maskulin Black Code dari Giorgio Armani yang kental, namun tetap segar. Juga selera berbusana yang sama, santai dengan jeans, kaos, dan converse buluknya. Begitupun dengan minuman kesukaannya, Dia selalu memesan secangkir coffe latte di kedai ini.

            “Hei, kok ngelamun?” Aku terkejut. Dia menyadari bahwa Aku memperhatikannya sedari tadi. Aku membenarkan posisi dudukku, menghilangkan gugup yang menyerang pundi-pundi tubuh.

            “Katanya ada yang mau diomongin?” Dia melanjutkan bertanya

          Ya, Aku harus fokus ke tujuanku mengajak Dia bertemu di sini. Awalnya, siang tadi Aku tidak sengaja membaca timeline Angga, teman Kami, yang menyebutkan bahwa pagi ini Dia sedang berada di Jogja. Tadinya Aku ragu untuk mengajaknya bertemu. Setelah Kami putus, tidak pernah ada lagi komunikasi, bahkan twitterku di-block, dan BBM-ku didelete dari daftar kontaknya. Aku juga tak pernah berniat untuk menelpon atau mengirim sms sekedar menanyakan kabarnya. Aku tahu, Dia baik-baik saja, bahkan mungkin lebih baik dengan Karina di sampingnya. Karina, wanita yang menjadi alasan Kami untuk berpisah. Wanita yang menawarkan payung, ketika hubungan Kami menjelma mendung.

            Tetapi siang tadi Aku memberanikan diri mengirimkan sebuah pesan singkat ke ponselnya untuk mengajaknya bertemu dan Dia menyetujui itu.

            “Apa kabar?” Aku membuka percakapan

            “Baik. Lintang, Aku gak punya waktu, masih banyak kerjaan kantor yang belum diselesaikan. Besok Aku harus kembali  ke Jakarta.......”

            “Agung, Aku mengajak Kamu ke sini karena Aku ingin mengundang Kamu ke pernikahanku minggu depan.”

            Ya Tuhan, apakah espresso yang tadi Aku minum tercampur racun sehingga Aku berbicara demikian lancar? Aku sendiri terkejut mendengar kalimat yang mengalir dari bibirku. Kuperhatikan dari sudutku, Agung sama sekali tak menampakkan ekspresi apapun, Dia datar. Aku menunggunya berkomentar dengan nafas yang tersengal-sengal.

            “Aku turut senang mendengar kabar baik ini, Lintang. Aku ucapkan selamat dan mendoakan Kalian menjadi keluarga yang selalu utuh dan bahagia. Tapi Aku minta maaf, sepertinya Aku tidak bisa hadir di pestamu. Karina, istriku sedang hamil tua. Aku tak bisa meninggalkan Dia sendirian....”

            AGUNG SUDAH MENIKAH??!! Benar, seharusnya tadi Aku memesan espresso yang dicampur racun saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar