Pagi ini Aku bangun dengan tubuh lebam, sebab terlelap dalam siksa rindu yang terlampau kejam
Debar-debar di dadaku menyuarakan rindu, bahasa yang hanya dipahami oleh degup jantungmu
Seharusnya kemarin Kita tidak bertemu, rindu semakin liar tumbuh dalam pori-pori tubuhku
Kau harus tahu. Bukan Aku yang merindukanmu, namun milyaran sel di tiap ruasku
Aku melihat terang dimana-mana, redupku menjadi cahaya, Aku mendapatimu sebagai lentera
Aku jatuh cinta.
Bukan tanpa sengaja
Tuhan terlibat di dalamnya
Sunguh, kecupmu menyalakan percikan api di dadaku.
Membanjiri telaga kering dalam dadaku,
Mengalirkan ombak kecil dalam nadiku
Kamu, samuderaku
Menghanyutkan tiap jejak-jejak lukaku, menenggelamkan gerbang masa lalu
Kamu, jari-jari yang memberiku hangat
Nafas yang berada pada tiap sekat, udara yang memelukku erat
Kamu, kepingan ketabahan yang Kucuri dari rahim kesunyian
Kamu, menyetubuhi gairah rindu yang berejakulasi dalam kepalaku
Segala cemas di dadaku bisu dalam taut bibirmu
Matamu begitu teduh, Aku lupa di luar badai sedang bergemuruh
Memelukmu membungkam rindu, menghapus haru
Denganmu, bahagiaku utuh
Sebab jauh dari sisimu Aku limbung, udara di sekitarku berubah mendung
Jadilah semestaku, tempat kusemayamkan rindu, merebahkan segala keluh
Suatu waktu, Aku akan menetap di penjara yang Kubangun sendiri dari tulang rusukmu
Terimakasih Sayang, memberiku cinta tak berkesudahan,
Denganmu Aku menemukan akhir perjalanan.
Kelak Kita akan menyantap sarapan bersama, dalam rumah yang Kita bangun dengan tawa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar