Dulu, cinta Kita buta. Lalu Dia memberikanmu kacamata
Ketika cintaku menjelma mendung, Dia menawarkanmu sebuah payung
Saat Aku mengalungkanmu intan, mengapa justru matanya yang menangkap kilauan?
Begitu Kau menyukai caraku menuliskan puisi, sedangkan Dia bilang mencintaimu tanpa spasi
Kita selalu menyatu dalam titik-titik hujan, namun sekejap Dia memisahkan dengan genangan
Pertemuan-pertemuan yang Kita jalin pada kebun mawar, tanpa disadari diam-diam Dia menjelma duri pada bunga yang baru mekar
Baru saja Kita menikmati gugusan bintang, Dia hadir membawa cahaya bulan yang jauh lebih terang
Kau tahu, Aku mencintaimu tanpa jeda, lalu Dia berjanji menghujanimu jutaan cinta tanpa reda
Kisah yang Kita hidupkan pada ratusan malam, akhirnya mati mengenaskan sebab ditusuknya dengan jarum jam
Aku merindukanmu seperti langit senja, namun ternyata Dia tlah membawamu sampai pada garis cakrawala
Tidak ada komentar:
Posting Komentar