Rabu, 21 Maret 2012

GERIMIS DAN SOFA TUA YANG TERSISIH

"Secepat ini?"
"Harus dengan cara seperti ini?"
"Apa ini mimpi?"

Terlalu banyak pertanyaan. Begitu banyak keharuan.

Di sana, pada rintik-rintik gerimis, Kita pernah meletakkan sebongkah harapan. Di sana, pada sofa tua di kediaman, Kita pernah menyatu dalam sebuah dekapan.

Bahkan Kau lupa, seminggu belakangan Kita bergelut dalam kemesraan. Hingga Dia, yang mungkin belum tau apa arti keterpurukan, merampas Kau begitu mudahnya dari setiap perhatian.

Aku lengah!!!
Kau juga terlalu lemah!!

Apa Aku terluka? Ya. Aku terluka. Berantakan. Semua. Aku. Kamu. Dia. Kita. Semua terbengkalai, dan hanya Aku yang menyuarakan kepedihan

Tak ada lagi hati yang sedu sedan menanti gerimis pada senja. Tak ada lagi kemesraan di sofa tua. Semua menjelma debu, masing-masing menggeleparkan haru.

"Apa sudah ada yang mengisi hatimu di sana?"

"Belum"

"Mengapa?"

"Aku belum punya tipe-x"

"Maksud Kamu?"

"Untuk menghapus namamu di hatiku"

Seringan itu, Aku mau. Semudah ke toko buku, berjalan menuju rak alat tulis. Lalu Aku sengaja memilih tipe-x warna biru, kesukaanmu. Dengan langkah ringan Aku lalu membayarnya di kasir.

Aku ingin sesederhana itu melupakanmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar