Tanpamu, nafas yang kuhirup tak penuh, jiwaku yang seharusnya satu menjadi separuh, ragaku tak lagi utuh.
Rabu, 20 Februari 2013
Senin, 27 Agustus 2012
Last Dialogue
“Kamu bahagia?”
“Dia baik”
“Kamu berpura-pura”
“Kamu bisa apa?”
“Pergi denganku sekarang, Aku akan melihatkan kepadamu apa
itu terang”
“Apa Kamu lupa, besok Aku
akan menuju altar pernikahan?”
“Ini salah!!”
“Lalu, dengan pergi bersamamu malam ini, menurutmu itu hal yang benar?”
“Aku mencintaimu...”
“Aku mencintai Tuhanku”
"Tuhan Kita sama!!"
"Jika sama, Apa Kamu bisa mencintai Tuhanku juga? Apa mungkin Kau ganti sujudmu dengan berlutut?"
"Tuhan Kita sama!!"
"Jika sama, Apa Kamu bisa mencintai Tuhanku juga? Apa mungkin Kau ganti sujudmu dengan berlutut?"
Sabtu, 25 Agustus 2012
BERBALAS KEJUTAN
Firsta Wuri Agung Baroto, lelaki yang dulu hidup dalam tiap desah
nafasku. Lelaki yang pernah menjadi muara tempat Aku menyandarkan jenuh, peluh,
dan segala keluh. Lelaki yang telah menyalakan percik api di dadaku.
Hari
ini, 24 April 2010, 19.00 WIB, sebuah kedai kopi sederhana yang tak begitu jauh
dari rumahku, lelaki itu ada di
hadapanku. Dia masih sama dengan 3 tahun yang lalu. Potongan rambut yang sama,
pendek dan tipis ala Taylor Lautner. Aroma tubuh yang sama, aroma maskulin Black
Code dari Giorgio Armani yang kental, namun tetap segar. Juga selera berbusana
yang sama, santai dengan jeans, kaos, dan converse buluknya. Begitupun dengan
minuman kesukaannya, Dia selalu memesan secangkir coffe latte di kedai ini.
“Hei,
kok ngelamun?” Aku terkejut. Dia menyadari bahwa Aku memperhatikannya sedari
tadi. Aku membenarkan posisi dudukku, menghilangkan gugup yang menyerang
pundi-pundi tubuh.
“Katanya
ada yang mau diomongin?” Dia melanjutkan bertanya
Ya,
Aku harus fokus ke tujuanku mengajak Dia bertemu di sini. Awalnya, siang tadi
Aku tidak sengaja membaca timeline Angga, teman Kami, yang menyebutkan bahwa
pagi ini Dia sedang berada di Jogja. Tadinya Aku ragu untuk mengajaknya
bertemu. Setelah Kami putus, tidak pernah ada lagi komunikasi, bahkan twitterku
di-block, dan BBM-ku didelete dari daftar kontaknya. Aku juga tak pernah
berniat untuk menelpon atau mengirim sms sekedar menanyakan kabarnya. Aku tahu,
Dia baik-baik saja, bahkan mungkin lebih baik dengan Karina di sampingnya.
Karina, wanita yang menjadi alasan Kami untuk berpisah. Wanita yang menawarkan
payung, ketika hubungan Kami menjelma mendung.
Tetapi
siang tadi Aku memberanikan diri mengirimkan sebuah pesan singkat ke ponselnya
untuk mengajaknya bertemu dan Dia menyetujui itu.
“Apa
kabar?” Aku membuka percakapan
“Baik.
Lintang, Aku gak punya waktu, masih banyak kerjaan kantor yang belum
diselesaikan. Besok Aku harus kembali ke
Jakarta.......”
“Agung,
Aku mengajak Kamu ke sini karena Aku ingin mengundang Kamu ke pernikahanku
minggu depan.”
Ya
Tuhan, apakah espresso yang tadi Aku minum tercampur racun sehingga Aku
berbicara demikian lancar? Aku sendiri terkejut mendengar kalimat yang mengalir
dari bibirku. Kuperhatikan dari sudutku, Agung sama sekali tak menampakkan
ekspresi apapun, Dia datar. Aku menunggunya berkomentar dengan nafas yang
tersengal-sengal.
“Aku
turut senang mendengar kabar baik ini, Lintang. Aku ucapkan selamat dan
mendoakan Kalian menjadi keluarga yang selalu utuh dan bahagia. Tapi Aku minta
maaf, sepertinya Aku tidak bisa hadir di pestamu. Karina, istriku sedang hamil
tua. Aku tak bisa meninggalkan Dia sendirian....”
AGUNG
SUDAH MENIKAH??!! Benar, seharusnya tadi Aku memesan espresso yang dicampur
racun saja.
Kamis, 02 Agustus 2012
Campur Tangan Tuhan
Pagi ini Aku bangun dengan tubuh lebam, sebab terlelap dalam siksa rindu yang terlampau kejam
Debar-debar di dadaku menyuarakan rindu, bahasa yang hanya dipahami oleh degup jantungmu
Seharusnya kemarin Kita tidak bertemu, rindu semakin liar tumbuh dalam pori-pori tubuhku
Kau harus tahu. Bukan Aku yang merindukanmu, namun milyaran sel di tiap ruasku
Aku melihat terang dimana-mana, redupku menjadi cahaya, Aku mendapatimu sebagai lentera
Aku jatuh cinta.
Bukan tanpa sengaja
Tuhan terlibat di dalamnya
Sunguh, kecupmu menyalakan percikan api di dadaku.
Membanjiri telaga kering dalam dadaku,
Mengalirkan ombak kecil dalam nadiku
Kamu, samuderaku
Menghanyutkan tiap jejak-jejak lukaku, menenggelamkan gerbang masa lalu
Kamu, jari-jari yang memberiku hangat
Nafas yang berada pada tiap sekat, udara yang memelukku erat
Kamu, kepingan ketabahan yang Kucuri dari rahim kesunyian
Kamu, menyetubuhi gairah rindu yang berejakulasi dalam kepalaku
Segala cemas di dadaku bisu dalam taut bibirmu
Matamu begitu teduh, Aku lupa di luar badai sedang bergemuruh
Memelukmu membungkam rindu, menghapus haru
Denganmu, bahagiaku utuh
Sebab jauh dari sisimu Aku limbung, udara di sekitarku berubah mendung
Jadilah semestaku, tempat kusemayamkan rindu, merebahkan segala keluh
Suatu waktu, Aku akan menetap di penjara yang Kubangun sendiri dari tulang rusukmu
Terimakasih Sayang, memberiku cinta tak berkesudahan,
Denganmu Aku menemukan akhir perjalanan.
Kelak Kita akan menyantap sarapan bersama, dalam rumah yang Kita bangun dengan tawa
Senin, 11 Juni 2012
KITA - DIA
Dulu, cinta Kita buta. Lalu Dia memberikanmu kacamata
Ketika cintaku menjelma mendung, Dia menawarkanmu sebuah payung
Saat Aku mengalungkanmu intan, mengapa justru matanya yang menangkap kilauan?
Begitu Kau menyukai caraku menuliskan puisi, sedangkan Dia bilang mencintaimu tanpa spasi
Kita selalu menyatu dalam titik-titik hujan, namun sekejap Dia memisahkan dengan genangan
Pertemuan-pertemuan yang Kita jalin pada kebun mawar, tanpa disadari diam-diam Dia menjelma duri pada bunga yang baru mekar
Baru saja Kita menikmati gugusan bintang, Dia hadir membawa cahaya bulan yang jauh lebih terang
Kau tahu, Aku mencintaimu tanpa jeda, lalu Dia berjanji menghujanimu jutaan cinta tanpa reda
Kisah yang Kita hidupkan pada ratusan malam, akhirnya mati mengenaskan sebab ditusuknya dengan jarum jam
Aku merindukanmu seperti langit senja, namun ternyata Dia tlah membawamu sampai pada garis cakrawala
Selasa, 01 Mei 2012
TERIMAKASIH, THANK YOU, KAMSIA, SUGRIYA
- Terimakasih Tuhan untuk hembusan nafas pertama setelah Aku terjaga dari malam sebelumnnya
- Terimakasih Tuhan untuk kiriman seorang yang setiap waktu mengaku rindu dan membangunkanku di tiap Subuh
- Terimakasih Tuhan untuk kesempatan mendengar Ibu menyuarakan surga meski tak langsung bertatap muka
- Terimakasih Tuhan untuk kepercayaan sehingga Aku masih bisa sibuk dalam pekerjaan
- Terimakasih Tuhan untuk rejeki lebih bulan ini sehingga Aku bisa membuat anak-anak yatim bisa sedikit memamerkan gigi
- Terimakasih Tuhan untuk kiriman rekan-rekan yang menyenangkan
- Terimakasih Tuhan untuk tempat tinggal yang menjauhkanku dari hal-hal janggal
- Terimakasih Tuhan untuk kemajuan teknologi di muka bumi sehingga Aku tidak berteman pada sepi
- Terimakasih Tuhan untuk kesempatan mengenal pribadi-pribadi jenaka yang membuatku tak henti tertawa dan melupakan duka
- Terimakasih Tuhan untuk sketsa hidup yang sungguh membuatku takjub
Terimakasih, Thank you, kamsia, sugriya :)
Jumat, 27 April 2012
Jika Kamu dulu melihatku sebagai gugusan
bintang, mengapa memalingkan pandang ketika mentari datang?
Jika tak sanggup mempertahankan, mengapa dulu
Kau ajarkan Aku kesetiaan?
Jika
hanya berakhir pada keterpurukan, mengapa pernah menjanjikan kebahagiaan?
Jika hanya
menyuarakan kepedihan, mengapa cinta ini tetap kuperjuangkan?
Jika tak mampu
memperjuangkan, setidaknya ajari Aku tersenyum dalam kepedihan
Jika sudah lelah
bertahan, tolong tengok Aku sekali saja dalam kubangan kekecewaan
Jika
Kau tidak tahan ingin pergi, setidaknya jangan tinggalkan Aku bersama nyeri
Jika tak berniat
untuk kembali, setidaknya ajarkan Aku untuk jatuh hati sekali lagi
Langganan:
Postingan (Atom)