Kamis, 10 November 2011

Serupa lingkar senja, Kau membuatku terpesona

Diamlah sebentar saja, ada hati Kita, biarkan mereka memenuhi titahnya

Aku merasa Kita pernah bertemu di kehidupan sebelumnya, Kau memakai baju merah, lalu Kita berbicara tanpa jeda, hingga Ayah memanggilku dari beranda

Ada haru yang tiba-tiba menyeru tiap Aku mengeja namamu. Entah Aku yang sedang pilu atau Kau yang memang pantas untuk dirindu

Perlu Kau tahu, keningku lumpuh karna lelah memikul rindu sebuah hangat dari kecupmu

Jangan diam, rindu ini menuntut tuk diredamagar tak sampai pada sudut hati yang temaram

Paling tidak, saat ini Kita tak pernah lupa saling mnyematkan nama, lewat sebaris doa

Pada waktunya, punggung tanganmu akan menjadi tempat dimana Aku mengecupkan kesetiaanku sesaat setelah Kau menjadi imamku

Dan satu waktu nanti, saat Kau tak lagi sanggup menggendongku, dengan sigap Aku akan menggandengmu




KAU DAN HUJAN

Saat hujan, beberapa kenangan saling bertabrakan

Rintik tetap jatuh ke bumi, serupa rindu yang terus menghantui

Serupa rintik hujan, Kau memang sengaja diturunkan Tuhan agar Aku tak kesepian

Aku ingin Kita bermain di halaman. Berlarian di tengah hujan. Tanpa sadar saling berpelukan
Bagimu, Kucuri selingkar cahaya pada ujung senja. Aku ingin Kau tampak merona

Bagimu, Kutampik gemuruh badai. Aku takut Kau hilang dan memuai

Bagimu, Kutelanjangi hutan yang ganas. Kau kan Kudekap hingga terakhirku bernafas

Bagimu, Kuuntaikan pelangi pada lenggokmu yang wangi. Jangan lagi Kau bermain sepi

Bagimu, Kutuang bergelas air mata kala Kau dahaga sebab rindu belum mampu bermuara

Bagimu, Kutembaki puluhan gemintang sebelum kusemayamkan di pusara hatimu, Sayang...

DAUN DAN EMBUN

Kamu serupa embun yang menetes pada permukaan daun, sedang Aku adalah akar yang setia menunggumu turun

Sengaja kutitipkan rindu yang mengepung lewat penghujung daun yang sedang berkabung

Karena serupa daun, rindu yang tampak subur pada akhirnya akan gugur ketika peluk Kita melebur

Dan pada kehidupan berikutnya Aku kan memilih menjadi daun yang tiap pagi selalu dicumbu embun

Rabu, 19 Oktober 2011

Cintai Aku secara sederhana, seperti kerlipan mata saat Engkau tertawa

Cintai Aku secara sederhana, layaknya daun yang menyentuh tanah basah diwaktu angin menerpa

Cintai Aku secara sederhana, serupa riak pantai yang tak ragu menyentuh karang dalam naungan bintang

Cintai Aku secara sederhana, ibarat lengkungan pelangi yang mampu mewarnai hati

Cintai Aku secara sederhana, seumpama paduan gula dan kopi yang Kau teguk setiap pagi

Cintai Aku secara sederhana, laksana gerimis yang selalu mencumbu bumi dengan manis

Cintai Aku secara sederhana, bagai langit sore yang tampak berwajah orange

Jumat, 14 Oktober 2011

UNTUK DIA

Tuhan, jaga Dia yang tiap kali merengkuh air mata kala mengeja namaku dalam doa

Tuhan, lindungi Dia yang tak lelah menyeka keringat hanya agar Aku bergelimpahan nikmat

Tuhan, tuntun Dia yang tak nyenyak di tiap malam khawatir Aku redup dalam temaram

Tuhan, bantu Dia yang bersakit dengan rela demi melihatku bahagia

Tuhan, terangi Dia yang selalu gelisah begitu tahu Aku belum menjejakkan kaki di beranda rumah

Tuhan, rangkul Dia yang terkadang terluka jika mendengar nadaku berduka

Sabtu, 01 Oktober 2011

Lewat hujan, Aku merengkuh setangkup kebahagiaan yang terpantul dari sebuah cermin kenangan

Hujan itu adalah Kamu, yang sengaja diturunkan Tuhan mengetuk atap rumahku untuk menyulikku dari kubangan bosan

Kau adalah rintik yang menggema dalam hujan, sedang Aku genangan air di halaman

Saat hujan, Aku pernah berlama lama duduk di bawah jendela menunggu embun mengecup kaca, agar Aku bisa menuliskan namamu di sana

Anggap saja Aku ada di sampingmu, mengaduk gula di ceruk kopimu dan pergi begitu saja dengan meninggalkan kecup di cangkirmu

Cepat temui Aku sebelum rintik terakhir badai, sebelum kecupku di cangkirmu memuai

Cukup tau saja, kini Kamu menjelma samudera hitam, tempat rinduku karam