Lewat hujan, Aku merengkuh setangkup kebahagiaan yang terpantul dari sebuah cermin kenangan
Hujan itu adalah Kamu, yang sengaja diturunkan Tuhan mengetuk atap rumahku untuk menyulikku dari kubangan bosan
Kau adalah rintik yang menggema dalam hujan, sedang Aku genangan air di halaman
Saat hujan, Aku pernah berlama lama duduk di bawah jendela menunggu embun mengecup kaca, agar Aku bisa menuliskan namamu di sana
Anggap saja Aku ada di sampingmu, mengaduk gula di ceruk kopimu dan pergi begitu saja dengan meninggalkan kecup di cangkirmu
Cepat temui Aku sebelum rintik terakhir badai, sebelum kecupku di cangkirmu memuai
Cukup tau saja, kini Kamu menjelma samudera hitam, tempat rinduku karam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar