Sabtu, 01 Oktober 2011

Lewat hujan, Aku merengkuh setangkup kebahagiaan yang terpantul dari sebuah cermin kenangan

Hujan itu adalah Kamu, yang sengaja diturunkan Tuhan mengetuk atap rumahku untuk menyulikku dari kubangan bosan

Kau adalah rintik yang menggema dalam hujan, sedang Aku genangan air di halaman

Saat hujan, Aku pernah berlama lama duduk di bawah jendela menunggu embun mengecup kaca, agar Aku bisa menuliskan namamu di sana

Anggap saja Aku ada di sampingmu, mengaduk gula di ceruk kopimu dan pergi begitu saja dengan meninggalkan kecup di cangkirmu

Cepat temui Aku sebelum rintik terakhir badai, sebelum kecupku di cangkirmu memuai

Cukup tau saja, kini Kamu menjelma samudera hitam, tempat rinduku karam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar