Pak.. Buk..
Sekarang Saya baik baik saja. Lebih baik, malah. Saya sehat. Saya bahagia. Maaf kalau Saya jarang memberi kabar. Maaf kalau Saya malas menelepon kalau tidak Ibu yg menelepon duluan. Saya cuma tidak ingin terlihat manja dimata Kalian. Saya tidak ingin Kalian tahu kalau Saya meneteskan air mata saat di akhir telepon, Ibu selalu bilang "yang kuat ya, Dek". Apakah Saya terlihat lemah?? Ya, Saya tak pandai berpura pura di depan Kalian.
Pak.. Buk..
Sedang apa Kalian?? Biar Saya tebak. Kalian pasti sedang di ruang tengah, menonton sinetron alay, dan sibuk berkomentar. Ah.. Saya rindu. Sangat. Saya ingin berada disitu, tidur di tengah tengah kalian. Sesekali iseng mengganti channel TV, dan Bapak akan sangat marah kepada Saya. Saya rindu amarah Kalian. Sangat.
Pak.. Buk..
Mungkin saat ini Saya sedang diberi hukuman. Dulu, selama Saya berada dekat Kalian, Saya terlalu sibuk dengan dunia Saya. Justru Saya sibuk mengirimkan sms ke pacar "sudah makan??" dan tanpa pernah perduli apakah Kalian di luar sana sudah menyuapkan nasi ke mulut Kalian. Dulu, bibir lebih banyak mengucap "sayang" ke pacar, sedangkan menyapa Kalian pun sepertinya Saya enggan.
Pak.. Buk..
Pak.. Buk..
Dulu hubungan Kita buruk. Amat buruk. Saya lebih senang menghabiskan waktu, berbagi cerita kepada teman teman, daripada dengan Kalian. Tanpa Saya sadari, bahwa Kalianlah teman terbaik, tempat berbagi yg paling baik.
Pak.. Buk..
Memang ini terdengar klise. Tapi ini tulus. Saya merindukan Kalian. Saya merindukan ketika Ibu mengompres kepala Saya saat Saya demam, dan Saya juga merindukan ketika keluar kampus, Saya melihat Bapak di ujung sana telah siap menjemput Saya.
Pak.. Buk..
Terimakasih. Do'a Kalian adalah suplemen bagi Saya. Senyum Kalian adalah Nyawa Saya. Sekali lagi, Saya baik baik saja.
Sembah Sujud,
Anakmu Sing Ayu Dewe
Tidak ada komentar:
Posting Komentar